Berita

24 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ini Tiga Alat Sederhana Penyelamat Nyawa jika Berkegiatan di Laut

Berkegiatan di alam bebas, khususnya laut dan hutan, perlu persiapan alat dan fisik yang matang. Sebab, alam liar tidak bisa diprediksi 100 persen tepat dan bisa berubah setiap waktu. Nah, inilah tiga alat sederhana, mudah dibawa namun sangat penting sebagai faktor penyelamat nyawa kita jika terjadi hal tak terduga di tengah alam liar. Tiga alat itu adalah senter, peluit dan kaca. Kok bisa? Simak penjelasan berikut.

Menurut Kepala Kantor SAR Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Abdul Rahman, benda-benda sederhana tersebut memiliki peran penting dalam membantu proses pencarian dan penyelamatan saat kondisi darurat terjadi di alam liar.

"Peluit, senter, dan cermin, dapat menjadi alat komunikasi darurat ketika seseorang mengalami musibah atau tersesat," katanya.

Dalam kondisi darurat, sinyal bahaya dapat disampaikan menggunakan peluit maupun cahaya untuk mempermudah tim penyelamat menemukan lokasi korban lebih cepat atau menjadi penanda bahwa seseorang sedang berada dalam situasi genting dan membutuhkan pertolongan.

Kode darurat dengan menggunakan ketiga alat itu dinilai lebih efektif karena bersifat umum, sehingga dapat dipahami oleh siapa saja tanpa bergantung pada bahasa maupun jaringan komunikasi.

Peluit merupakan kode yang bisa ditangkap melalui pendengaran. Untuk penggunaannya, sinyal darurat disampaikan melalui bunyi dengan pola tiga kali tiupan pendek, tiga kali tiupan panjang, lalu tiga kali tiupan pendek lagi.

Melalui pola tersebut, tim penyelamat maupun orang di sekitar dapat mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang meminta pertolongan atau berada dalam kondisi darurat.

Sementara itu senter dan cermin digunakan sebagai sinyal darurat melalui cahaya yang dapat ditangkap dengan penglihatan.

Cahaya senter dapat digunakan pada malam hari atau saat kondisi berkabut. Sedangkan cermin dimanfaatkan untuk memantulkan cahaya matahari, bulan, atau sumber cahaya lain ke arah sekitar maupun ke udara sebagai penanda lokasi.

Pola isyarat yang diberikan mirip dengan bunyi, yakni tiga kali kedipan cahaya pendek, tiga kali panjang dan kembali pada kedipan pendek'Jika hanya menggunakan suara dengan berteriak meminta tolong, itu tidak terlalu efektif karena biasanya hanya terdengar sekitar 50 meter dan bisa tertutup suara ombak laut maupun angin. Selain itu penggunaan alat seperti peluit juga tidak membutuhkan banyak tenaga," katanya.

Selain membawa perlengkapan sederhana tersebut, masyarakat juga diingatkan untuk menyiapkan alat keselamatan lain, seperti pelampung dan radio komunikasi saat melaut.

Ia menyampaikan pemberitahuan rencana perjalanan kepada keluarga atau kerabat sebelum berangkat, baik saat pergi melaut maupun masuk ke kawasan hutan, juga merupakan hal penting lain yang perlu dilakukan. (*)

24 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ini Tiga Alat Sederhana Penyelamat Nyawa jika Berkegiatan di Laut

Berkegiatan di alam bebas, khususnya laut dan hutan, perlu persiapan alat dan fisik yang matang. Sebab, alam liar tidak bisa diprediksi 100 persen tepat dan bisa berubah setiap waktu. Nah, inilah tiga alat sederhana, mudah dibawa namun sangat penting sebagai faktor penyelamat nyawa kita jika terjadi hal tak terduga di tengah alam liar. Tiga alat itu adalah senter, peluit dan kaca. Kok bisa? Simak penjelasan berikut.

Menurut Kepala Kantor SAR Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Abdul Rahman, benda-benda sederhana tersebut memiliki peran penting dalam membantu proses pencarian dan penyelamatan saat kondisi darurat terjadi di alam liar.

"Peluit, senter, dan cermin, dapat menjadi alat komunikasi darurat ketika seseorang mengalami musibah atau tersesat," katanya.

Dalam kondisi darurat, sinyal bahaya dapat disampaikan menggunakan peluit maupun cahaya untuk mempermudah tim penyelamat menemukan lokasi korban lebih cepat atau menjadi penanda bahwa seseorang sedang berada dalam situasi genting dan membutuhkan pertolongan.

Kode darurat dengan menggunakan ketiga alat itu dinilai lebih efektif karena bersifat umum, sehingga dapat dipahami oleh siapa saja tanpa bergantung pada bahasa maupun jaringan komunikasi.

Peluit merupakan kode yang bisa ditangkap melalui pendengaran. Untuk penggunaannya, sinyal darurat disampaikan melalui bunyi dengan pola tiga kali tiupan pendek, tiga kali tiupan panjang, lalu tiga kali tiupan pendek lagi.

Melalui pola tersebut, tim penyelamat maupun orang di sekitar dapat mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang meminta pertolongan atau berada dalam kondisi darurat.

Sementara itu senter dan cermin digunakan sebagai sinyal darurat melalui cahaya yang dapat ditangkap dengan penglihatan.

Cahaya senter dapat digunakan pada malam hari atau saat kondisi berkabut. Sedangkan cermin dimanfaatkan untuk memantulkan cahaya matahari, bulan, atau sumber cahaya lain ke arah sekitar maupun ke udara sebagai penanda lokasi.

Pola isyarat yang diberikan mirip dengan bunyi, yakni tiga kali kedipan cahaya pendek, tiga kali panjang dan kembali pada kedipan pendek'Jika hanya menggunakan suara dengan berteriak meminta tolong, itu tidak terlalu efektif karena biasanya hanya terdengar sekitar 50 meter dan bisa tertutup suara ombak laut maupun angin. Selain itu penggunaan alat seperti peluit juga tidak membutuhkan banyak tenaga," katanya.

Selain membawa perlengkapan sederhana tersebut, masyarakat juga diingatkan untuk menyiapkan alat keselamatan lain, seperti pelampung dan radio komunikasi saat melaut.

Ia menyampaikan pemberitahuan rencana perjalanan kepada keluarga atau kerabat sebelum berangkat, baik saat pergi melaut maupun masuk ke kawasan hutan, juga merupakan hal penting lain yang perlu dilakukan. (*)

21 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Harga Meroket di Pasaran, Kuda Laut Terancam Punah

Perburuan kuda laut semakin meningkat. Ini setelah kebutuhan kuda laut kering sebagai bahan baku obat tradisional semakin tinggi. Akibatnya harga melambung tinggi. Jika tidak dikelola dan diatur sejak dini, bisa jadi kuda laut akan punah diburu manusia.

Menurut Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masayu Rahmia Anwar Putri, tingginya nilai ekonomi membuat pemanfaatan kuda laut terus terjadi, dengan harga bisaenembus angka Rp 8 juta per kilogram. 

“Bayangkan kalau satu kampung mengambil kuda laut semua, kita tidak akan menemukannya lagi di daerah tersebut dan bisa punah,” katanya.

BRIN bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan rekomendasi kuota pemanfaatan kuda laut untuk kebutuhan perdagangan, penelitian, maupun indukan budi daya.
Masayu menekankan, pengelolaan kuda laut tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah karena luasnya wilayah perairan Indonesia dan keterbatasan jumlah personel.

Karena itu, Masayu mendorong masyarakat pesisir turut aktif melaporkan tangkapan, menjaga habitat, serta menyebarkan pengetahuan mengenai pentingnya konservasi kuda laut.
Kalau masyarakat pesisir tidak mau berkontribusi, kita tidak bisa mendapatkan data yang sebenarnya,” kata Masayu.

Pemahaman masyarakat terhadap keunikan dan ekologi kuda laut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga keberlanjutan spesies tersebut di alam.

Hingga saat ini tercatat 13 spesies kuda laut tersebar di berbagai wilayah perairan Indonesia. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring perkembangan riset dan penemuan spesies baru. (*)

20 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

'Sobat', Tradisi Unik Nelayan Derawan Memburu Tuna

Ada sebuah tradisi unik yang biasa dilakukan oleh para nelayan di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Utara. Sebuah tradisi yang biasa disebut 'Sobat'. Di mana, pada musim tertentu, para nelayan turun beramai-ramai membawa pukat tradisional untuk menangkap ikan tuna.

Aktivitas memukat ikan tersebut masih terus dipertahankan oleh kelompok nelayan pesisir hingga sekarang. Selain menjadi sumber penghasilan warga, tradisi itu perlahan berkembang menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi “sobat” memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan.
“Tradisi ini kini menjadi destinasi wisata budaya dan wisata bahari di Berau,” katanya, Rabu (20/5). 

Tradisi ini biasanya berlangsung mulai Maret hingga Oktober, menyesuaikan musim saat ikan tuna banyak mendekat ke kawasan Pulau Derawan. Di momen tersebut, nelayan akan turun ke laut menggunakan pukat sederhana secara berkelompok. Gerakan menarik jaring bersama-sama di tengah laut dangkal dengan latar pasir putih dan air jernih menjadi pemandangan khas yang sulit ditemukan di daerah lain.

Menurut Gamalis, tradisi seperti ini penting dijaga karena menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir Derawan, termasuk budaya melaut warga Suku Bajau yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Ia menilai sektor perikanan dan pariwisata di Berau sebenarnya dapat tumbuh beriringan tanpa harus saling menggeser.

“Tradisi masyarakat pesisir seperti ini memperlihatkan kehidupan asli warga Derawan dan justru bisa memperkuat citra wisata daerah,” katanya.

Potensi itu terlihat dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Derawan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan tercatat mencapai 45.274 orang atau naik sekitar 32,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas berasal dari wisatawan nusantara, sementara ribuan lainnya datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara Eropa. (*)

18 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Kuda Laut Indikator Kesehatan Ekosistem Laut

Kuda laut berperan penting sebagai indikator kesehatan ekosistem laut. Keberadaan kuda laut di wilayah lamun, bakau, maupun terumbu karang menunjukkan kondisi lingkungan yang masih baik dan mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.

Menurut Kepala Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Decky Indrawan Junaedi, menurunnya populasi kuda laut dapat menjadi penanda adanya degradasi lingkungan pesisir yang berpotensi memengaruhi stok ikan dan keberlanjutan perikanan masyarakat.

“Dengan kita mengonservasi kuda laut – mengonservasi artinya menjaga, kita melindungi, jangan sampai dia punah, itu sebetulnya secara tidak langsung kita menjaga lingkungannya, termasuk menjaga ikan-ikan yang di sana tetap bisa beranak-pinak,” jelas Decky dalam sebuah lokakarya di Jakarta, Senin (18/05/2026.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat pesisir dalam mendukung keberlanjutan kuda laut. “Bila si kuda laut ini masih ada, Ibu dan Bapak, ini berarti kondisi lingkungan tempat tinggalnya masih membuat dia betah tinggal di sana, karena memang kondisinya masih baik,” kata Decky.
Ia menyampaikan, isu maritim, termasuk konservasi dan perikanan, menjadi salah satu agenda riset utama BRIN. Menurutnya, BRIN terus aktif mendukung kebutuhan penelitian yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut melalui kerja sama dengan kementerian, pemerintah daerah, maupun organisasi nonpemerintah.

Kegiatan ini mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan mitra internasional untuk mendiskusikan kondisi ekosistem pesisir, konservasi kuda laut, serta keberlanjutan perikanan Indonesia. (*)

17 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Duta Maritim Indonesia Ajak Pemuda Peduli Isu Kelautan

Duta Maritim Indonesia 2025, Vina Avitasari dan Muhammad Rizky, mengajak generasi muda lebih peduli terhadap isu kemaritiman dan lingkungan pesisir.

“Indonesia bukan hanya negara maritim, tapi harus menjadi poros maritim dunia,” kata Vina dalam sebuah wawancara dalam sebuah talkshow di salah satu radio tanah air.

Vina Avitasari mengatakan, menjadi Duta Maritim Indonesia bukan sekadar gelar, tetapi bentuk tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Menurutnya, anak muda harus mulai mengambil peran dalam menjaga lingkungan pesisir, termasuk melalui langkah sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga ekosistem laut. “Kalau bukan anak muda yang menjaga laut Indonesia, siapa lagi,” ucapnya.

Vina juga menilai Provinsi Banten memiliki potensi maritim yang besar karena memiliki garis pantai panjang serta kawasan pelabuhan strategis.

Namun, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui perhatian terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Selain edukasi, keduanya juga aktif mengembangkan inovasi pengolahan limbah kerang menjadi pupuk dan briket sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pengelolaan lingkungan maritim. Mereka berharap semakin banyak anak muda terlibat dalam gerakan menjaga laut dan pesisir Indonesia secara berkelanjutan.

Sementara itu, Muhammad Rizky mengatakan, peran anak muda sangat penting dalam menjaga potensi maritim Indonesia yang luas. Menurutnya, generasi muda tidak hanya harus bangga menjadi bagian dari negara maritim, tetapi juga ikut terlibat dalam menjaga dan mengembangkan sektor tersebut.

Rizky menjelaskan, Duta Maritim Indonesia memiliki tugas menyuarakan isu-isu kemaritiman mulai dari pembangunan pesisir, edukasi lingkungan, hingga inovasi ekonomi berbasis laut. Ia menilai masih banyak generasi muda yang belum memahami potensi besar sektor maritim Indonesia.
Karena itu, ia bersama komunitas yang dibinanya aktif melakukan edukasi kepada anak-anak dan pemuda, khususnya di wilayah perkotaan. Program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran bahwa Indonesia memiliki kekayaan laut yang harus dijaga bersama.

“Kita ingin anak-anak tahu kalau Indonesia punya laut yang luas dan banyak potensi,” pungkasnya. (*)

14 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Kilic, Drone Bawah Laut Buatan Turki yang Menarik Perhatian Dunia

Perusahaan pertahanan asal Turki, Aselsan, memperkenalkan drone bawah laut dan kapal tempur otonom terbaru yang super canggih. Kapal tanpa awak ini digadang-gadang mampu mengubah wajah peperangan modern di masa depan. 

Dalam ajang eksebisi internasional, SAHA 2026, di Istanbul Turki pada Selasa, 5 Mei 2026 lalu, Aselsan memperkenalkan keluarga sistem bawah laut otonom bernama Kilic serta wahana permukaan tak berawak Tufan.

Kilic menjadi sorotan utama karena dirancang khusus untuk menjalankan misi bawah laut secara senyap dan sulit terdeteksi. Drone ini hadir dalam beberapa varian yang mengutamakan mobilitas tinggi serta kemampuan menyerang dengan tingkat akurasi presisi.

Dalam operasi militer modern, kemampuan seperti ini sangat penting untuk menjalankan misi infiltrasi, sabotase, hingga pengintaian di wilayah berisiko tinggi tanpa melibatkan langsung personel manusia.

Aselsan juga membekali Kilic dengan sensor generasi terbaru, sistem komunikasi canggih, dan teknologi navigasi otomatis yang memungkinkan kendaraan bawah laut tersebut beroperasi secara mandiri. Tidak hanya itu, sistem ini juga mampu bergerak dalam formasi kawanan atau swarm, di mana beberapa unit dapat bekerja sama secara terkoordinasi untuk menjalankan misi tertentu secara simultan.

Konsep swarm dinilai menjadi salah satu masa depan peperangan modern karena memungkinkan serangan lebih efektif, sulit diprediksi, dan mampu menekan risiko kerugian personel.

Di sisi lain, Aselsan turut memperkenalkan Tufan, kapal tanpa awak berkecepatan tinggi yang dirancang untuk menjalankan misi ofensif sekaligus pengawasan intelijen. Wahana ini mampu beroperasi di wilayah pesisir maupun laut lepas dengan kemampuan manuver yang agresif dan tingkat otonomi tinggi.

Tufan juga mendukung operasi berbasis jaringan terintegrasi dan formasi swarm sehingga beberapa unit dapat melakukan pengintaian, pengawasan, hingga serangan presisi dalam waktu bersamaan. Kehadiran Kilic dan Tufan menunjukkan bagaimana teknologi otonom kini mulai menjadi tulang punggung strategi pertahanan modern. Dengan kemampuan operasi tanpa awak yang makin canggih, masa depan peperangan laut diperkirakan akan berubah drastis dalam beberapa tahun mendatang. (*)

13 Mei 2026

Penulis : Folger Siallagan

Bom Ikan Marah di Perairan NTT

Kerusakan ekosistem. Laut di perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin parah. Selain pencemaran dan polusi, praktik bom ikan menjadi faktor yang memperparah kerusakan tersebut. Polisi terus memperketat dan menindak tegas para pelaku bom ikan yang makin merajalela di laut NTT.

Yang terbaru adalah seorang nelayan asal Kabupaten Sikka ditetapkan sebagai buronan karena diduga menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan.

Direktorat Polisi Perairan dan Udara Polda NTT menerbitkan Daftar Pencarian Orang terhadap pria berinisial UM.

Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra mengatakan, praktik bom ikan menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut di wilayah Flores dan sekitarnya.

Selain menghancurkan terumbu karang, penggunaan bahan peledak juga mengancam keberlanjutan hasil tangkapan nelayan tradisional.
Kerusakan laut di perairan NTT pada 2026 didominasi oleh pencemaran sampah plastik, tumpahan minyak kapal, dan pengeboman ikan, yang menyebabkan terdamparnya paus, rusaknya terumbu karang, serta degradasi ekosistem di Laut Sawu dan Alor. Dampak ini merusak biota laut, memicu penurunan kualitas air, dan mengancam pariwisata. 

Aktivitas pengeboman ikan masih ditemukan, terutama di wilayah utara Flores, yang menghancurkan terumbu karang dan ekosistem laut. Kapal karam, seperti yang terjadi di Selat Pantar, Alor, merusak puluhan spot karang di wilayah suaka alam peairan (SAP).

“Tersangka masuk dalam daftar pencarian orang karena diduga terlibat dalam praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak yang sangat merusak lingkungan laut dan melanggar hukum,” kata Henry dilansir dari Tribrata News NTT.

DPO tersebut diterbitkan berdasarkan nomor DPO/01/VI/2026/Ditpolairud tertanggal 12 Mei 2026.
Dalam perkara itu, tersangka dijerat Pasal 306 KUHP serta Pasal 84 Undang-Undang Perikanan.

Polisi menyebutkan, tersangka diketahui bernama Umar, lahir di Parumaan pada 6 Desember 1984 dan bekerja sebagai nelayan.

Ia diketahui berdomisili terakhir di wilayah Parumaan B, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.
Kabidhumas menegaskan, Polda NTT akan bertindak tegas terhadap seluruh pelaku illegal fishing yang merusak lingkungan laut.

Menurutnya, penegakan hukum tidak hanya menyasar pelaku utama, tetapi juga pihak-pihak yang mencoba membantu tersangka menghindari proses hukum. (*)

12 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Jaga Populasi, Lepaskan 183 Ikan Napoleon ke Habitat

Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Kepulauan Seribu bersama Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Metro Jaya melepaskan sebanyak 183 ekor ikan napoleon di perairan Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Kepala Suku Dinas KPKP Kepulauan Seribu, Nurliati mengatakan, pelepasan ikan napoleon ini merupakan upaya nyata menjaga keberlangsungan sumber daya perikanan serta kelestarian ekosistem laut di Kepulauan Seribu.

KPKP DKI Monitoring Kesehatan Lingkungan Pokdakan Kepulauan Seribu. 
"Ikan napoleon merupakan salah satu spesies yang dilindungi karena populasinya terus menurun, keberadaannya harus dijaga bersama,” ujarnya, Selasa (12/5).

Nurliati menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat agar semakin peduli terhadap pelestarian biota laut dan habitat perairan.

"Kami berharap masyarakat, khususnya nelayan dapat lebih memahami pentingnya menjaga habitat laut serta tidak menangkap maupun memperjualbelikan ikan yang dilindungi," terangnya.

Wakil Direktur Polairud Polda Metro Jaya, AKBP Bungin Masokan Misalayuk memastikan, akan terus mendukung upaya pelestarian lingkungan laut melalui pengawasan dan penegakan hukum di wilayah perairan.

"Penindakan terhadap aktivitas penangkapan ikan dilindungi akan terus kami lakukan. Kami juga mengedepankan edukasi kepada masyarakat agar bersama-sama menjaga kelestarian sumber daya laut," ungkapnya.

Ia menambahkan, keberadaan ikan napoleon memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang.

"Kami berharap kegiatan pelepasliaran ini dapat memberikan dampak positif bagi keberlanjutan ekosistem laut di Kepulauan Seribu," ucapnya. (*) 

11 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

KRI Canopus-936, Kunci Sukses Ekspedisi Jala Citra

Ekspedisi bawah laut Jala Citra yang digagas TNI AL akan mendapat pasokan kapal baru yang super canggih. Kapal ini adalah KRI Canopus-936 yang dibuat di Batam dan dilengkapi berbagai fitur canggihnya di Jerman.

"Dengan adanya kedatangan KRI Canopus-936 baru ini mudah-mudahan beberapa perairan yang tadinya belum tersentuh bisa dipetakan," kata Kepala Staf TNI AL Laksamana  Muhammad Ali. 

KRI Canopus-936 dibuat di dua tempat. Lambung dan konstruksi di Indonesia, fitting out dan penyelesaian di Jerman.  Diketahui, Ekspedisi Jala Citra merupakan program penelitian hidrografi dan oseanografi tahunan yang bertujuan untuk memperbaharui peta permukaan ataupun bawah laut Indonesia.

Sebelumnya TNI AL hanya mengandalkan dua kapal bantu Hidro Oseanografi yakni KRI Rigel-933 dan KRI Spica-934. Dua KRI itu dinilai kurang maksimal karena memiliki keterbatasan teknologi sonar di bidang pemetaan bawah laut..

Oleh karena itu dengan adanya KRI Canopus-936, Ali berharap upaya pemetaan wilayah laut bisa dilakukan secara maksimal demi memperkuat penjagaan wilayah teritorial laut Indonesia.

KRI Canopus-936 dilengkapi dengan berbagai teknologi, di antaranya Hydrographic Survey Launcher (HSL), Autonomous Underwater Vehicle (AUV), Remotely Operated Vehicle (ROV), Autonomous Surface Vehicle (AUV) serta Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

"Peralatan itu digunakan untuk melakukan survei hidrografi, oseanografi, geofisika, hingga pemetaan secara detail di dasar laut," ujar Ali.

Selain memantau wilayah bawah laut, kapal tersebut juga difungsikan untuk operasi militer seperti pemetaan jalur kapal selam, deteksi ranjau laut, patroli keamanan, serta dukungan intelijen maritim.

KRI Canopus-936 juga mampu melaksanakan misi pencarian dan pertolongan (SAR) dalam air termasuk deteksi sinyal darurat dan pencarian objek di dasar laut.

Dengan teknologi ini, menurut dia, TNI AL dapat mencari kapal selam yang mengalami kecelakaan dan tenggelam di laut.

Kapal ini juga memiliki kemampuan survei laut dalam dan laut dangkal, termasuk survei di wilayah pesisir menggunakan dua kapal kecil yang dibawa di dalamnya. Selain fungsi ilmiah, kapal ini juga memiliki kemampuan mendukung operasi militer dan keamanan laut, termasuk pemetaan jalur kapal selam, deteksi ranjau laut, patroli keamanan, serta dukungan intelijen maritim.

Dalam operasi kemanusiaan, KRI Canopus-936 mampu melaksanakan misi pencarian dan pertolongan (SAR), termasuk deteksi sinyal darurat dan pencarian obyek di dasar laut. (*)

9 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Peneliti Temukan Jejak Cumi Raksasa Sebesar Bus

Para ilmuwan Australia baru saja mengumumkan penemuan luar biasa tentang keanekaragaman hayati di ngarai dalam di lepas pantai Nyinggulu (Ningaloo), Australia Barat. Salah satu temuan yang mencengangkan adalah jejak spesies cumi-cumi raksasa yang sangat langka. Diperkirakan cumi-cumi berukuran sangat besar hingga 13 meter atau setara dengan ukuran bus. 

Studi yang dipimpin oleh Curtin University bekerja sama dengan Western Australian Museum ini dilakukan di atas kapal penelitian Falkor milik Schmidt Ocean Institute (AS). Tim tersebut mensurvei ngarai bawah laut Cape Range dan Cloates, yang terletak sekitar 1.200 km di utara Perth, dan mengumpulkan lebih dari 1.000 spesimen pada kedalaman hingga 4.510 m.

Salah satu aspek unik dari penelitian ini adalah penerapan teknologi DNA lingkungan (eDNA) – sebuah metode untuk menganalisis materi genetik yang tertinggal oleh organisme di air laut – untuk mengidentifikasi spesies tanpa pengamatan langsung atau penangkapan ikan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya jejak cumi-cumi raksasa dalam enam sampel yang diambil dari dua ngarai yang disebutkan di atas. Spesies ini berukuran sangat besar, sebanding dengan ukuran bus sekolah, dengan panjang sekitar 10-13 meter, berat hingga 275 kg, dan memiliki mata terbesar di kerajaan hewan, dengan diameter sekitar 30 cm.

Selain itu, tim peneliti juga menemukan jejak beberapa spesies paus penyelam laut dalam seperti paus sperma kerdil (Kogia breviceps) dan paus berparuh Cuvier (Ziphius cavirostris).

Secara total, penelitian ini mencatat 226 spesies yang termasuk dalam 11 kelompok hewan utama, termasuk ikan laut dalam yang langka, miselia (seperti karang dan ubur-ubur), echinodermata, cumi-cumi, dan mamalia laut.

Perlu dicatat bahwa puluhan spesies ini belum pernah tercatat di perairan Australia Barat, seperti hiu tidur, belut tanpa wajah, atau ikan naga bergigi ramping.

Menurut Dr. Georgia Nester, peneliti utama, hasil ini menunjukkan bahwa pemahaman manusia tentang ekosistem laut dalam di Australia masih sangat terbatas. Banyak spesies yang ditemukan tidak sesuai dengan data yang ada, sehingga membuka kemungkinan adanya spesies baru sepenuhnya.

Perwakilan dari Museum Australia Barat menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya jejak cumi-cumi raksasa tercatat di lepas pantai negara bagian tersebut menggunakan teknologi eDNA.

Sebelumnya, selama lebih dari 25 tahun, tidak ada laporan atau spesimen yang terkait dengan spesies ini di daerah tersebut.

Para ilmuwan percaya bahwa teknologi eDNA akan memainkan peran penting dalam penelitian dan konservasi laut, terutama karena ekosistem laut dalam berada di bawah tekanan perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal ilmiah Environmental DNA. (*) 

8 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Kapal MV Hondius yang Mendadak Viral karena Hantavirus

Dunia dihebohkan oleh penyebaran Hantavirus yang merebak di tengah penumpang kapal pesiar MV Hondius saat berlayar di tengah samudera. Wisata keliling dunia yang seharusnya eksklusif dan menyenangkan berubah menjadi horor. Seperti apa profil MV Hondius? Dan seperti apa penawaran paket wisata yang membuat banyak orang berminat naik kapal pesiar ini meski harga selangit. Berikut ulasannya.

Sekadar informasi, Hantavirus adalah penyakit langka namun masuk kategori berbahaya. Virus yang mudah menular ini kali pertama ditemukan di Amerika Selatan dan dapat menyebabkan sindrom paru hantavirus yang memiliki tingkat kematian cukup tinggi.

Virus ini kini menjadi pusat perhatian dunia setelah ditemukan penyebaran virus dengan sangat cepat di Kapal pesiar MV Hondius yang membawa 150 wisatawan dari 23 negara. Beberapa penumpang bahkan dilaporkan telah meninggal dunia di atas kapal, dan lainnya mengalami sakit. Kini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang melakukan pemeriksaan dan pencegahan penumpang turun dari kapal supaya virus tidak menyebar ke darat.

Lantas seperti apa profil kapal pesiar MV Hondius?

Kapal pesiar ini adalah salah satu kapal wisata keliling dunia dengan salah satu tujuan favoritnya adalah Antartika dan kutub utara.

Kapal pesiar ini dioperasikan  oleh Oceanwide Expeditions yang dirancang khusus untuk menjelajahi kawasan Arktik dan Antartika. Kapal ini mulai beroperasi pada 2019 dan dikenal sebagai salah satu kapal ekspedisi polar paling canggih di dunia.

MV Hondius dibangun dengan standar Polar Class 6 yang memungkinkan kapal beroperasi di wilayah es laut. Teknologi tersebut membuat kapal mampu menembus area dengan kondisi cuaca ekstrem secara lebih aman.

Kapal ini memiliki panjang sekitar 107 meter dengan kapasitas hingga 170 penumpang. Desainnya dibuat modern namun tetap mengutamakan efisiensi bahan bakar dan dampak lingkungan yang lebih rendah.

MV Hondius juga dilengkapi berbagai fasilitas premium untuk mendukung kenyamanan wisatawan selama ekspedisi berlangsung. Beberapa di antaranya meliputi restoran, ruang observasi, lecture room, lounge, hingga kabin dengan jendela panorama.

Selain menawarkan wisata melihat lanskap es dan satwa liar, kapal ini juga menyediakan aktivitas petualangan. Penumpang dapat mengikuti kayaking, hiking, snowshoeing, hingga menyaksikan kehidupan penguin dan paus dari dekat.
Salah satu daya tarik utama MV Hondius adalah konsep perjalanan ekspedisi edukatif. Selama pelayaran, penumpang biasanya mendapatkan penjelasan langsung dari ahli biologi, geologi, dan peneliti polar yang ikut dalam perjalanan.

Kapal ini kerap digunakan untuk pelayaran menuju Semenanjung Antartika, Kepulauan Falkland, South Georgia, hingga wilayah Lingkar Arktik. Karena rutenya eksklusif dan jumlah penumpangnya terbatas, MV Hondius masuk dalam kategori kapal ekspedisi premium.

Untuk semua pengalaman eksklusif itu, penumpang harus merogoh kocek sekitar Rp 120 juta per orang untuk 10 hari perjalanan di kategori atau paket wisata yang paling murah. (*)