Berita
3 Des 2025
Penulis : Folber Siallagan
Pulau Nipah, Dari Perburuan Penyu Jadi Destinasi Wisata
Meski tidak setenar Gili Trawangan atau Gili Air, Pantai Nipah di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, kini mulai menjadi tujuan utama wisatawan penyuka diving atau snorkeling. Pulau nipah bangkit jadi tujuan wisata eksotik yang tidak kalah indah dengan tetangganya, Gili Trawangan dan Gili Air.
Fikri, pelestari penyu dari Turtle Conservation Community (TCC) Nipah menceritakan, mulanya Pantai Nipah menghadapi tantangan serius berupa perburuan penyu dan telur.
"Kami sebagai masyarakat di sini merasa punya tanggung jawab untuk melindungi dan melestarikan semua ekosistem bawah laut, termasuk penyu," ucap Fikri.
Dengan semangat melindungi alam, TCC Nipah secara resmi terbentuk di tahun 2018. Fokus utama mereka adalah konservasi penyu, sebuah langkah yang secara perlahan, namun pasti, membuahkan hasil luar biasa.
Berkat upaya itu, perairan Nipah, kini menjadi rumah yang aman bagi biota laut dan membuat populasi penyu mudah dijumpai oleh para wisatawan. Fikri menyebutkan keberadaan TCC telah memberikan efek positif yang signifikan, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi pariwisata lokal.
Ia melihat bagaimana pemandu dan wisatawan yang menghindari kepadatan di Gili Air maupun Senggigi, kini mulai melirik Nipah. Pantai Nipah menjadi tujuan wisata alternatif yang menawarkan keindahan karang dan jaminan bertemu satwa laut yang tak lagi mudah ditemukan di lokasi lain.
Nipah bukan hanya tentang snorkeling dan menyelam biasa, namun juga eksplorasi ekosistem yang hidup, tempat di mana wisatawan dapat menyaksikan Penyu Hijau, Penyu Sisik, dan Penyu Lekang berenang bebas di antara terumbu karang yang mulai direstorasi oleh pegiat konservasi.
Fikri dan komunitasnya berharap semangat konservasi terus didukung semua pihak. Mereka ingin Nipah menjadi proyek percontohan yang ideal, menjamin kesinambungan antara pariwisata dan pelestarian, sehingga mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat secara signifikan.
Pantai Nipah telah membuka lebar pintu dan menawarkan ketenangan yang sulit tertandingi sebagai gerbang masuk menuju keajaiban bawah laut di Pulau Lombok.
Harmoni bawah laut
Di tengah kesejukan Pantai Nipah, Among menyambut setiap pengunjung. Sebagai salah satu penyedia penyewaan alat snorkeling, ia merupakan bagian garda terdepan yang menjaga kelestarian perairan.
Dengan wajah ramah, Among menjelaskan bahwa usaha penyewaan alatnya yang berjalan sejak tahun 2022 telah menjadi saksi bagaimana perairan Nipah menarik hati banyak penyelam laut dangkal.
Keindahan karang perairan Nipah yang masih alami dan bagus, serta jaminan bertemu penyu menjadi daya tarik tak terbantahkan. Para wisatawan hampir setiap hari bisa melihat penyu, saat snorkeling di perairan Nipah.
Di balik keindahan itu, Among memaparkan tantangan yang harus dihadapi, sekaligus menjadi pengingat yang menyentuh bagi setiap pengunjung.
Sampah yang terbawa angin atau hanyut dari daratan merupakan kendala terbesar yang dihadapi Pantai Nipah. Plastik-plastik sampah sering terhanyut ke laut dan berpotensi dimakan penyu karena bentuknya mirip ubur-ubur, makanan favorit mereka.
Selain itu, penyu juga sering terjerat jaring atau tersangkut kail pancing nelayan, sebuah risiko yang menuntut upaya pelestarian yang lebih ekstra dari komunitas TCC Nipah.
Melalui cerita tersebut, Among berharap setiap penyewaan alat snorkeling di Nipah bukan hanya tentang menikmati alam, tetapi juga tentang tanggung jawab. Prinsip utama yang dijaga adalah perlindungan biota laut, termasuk memastikan pengunjung tidak naik ke karang dan tidak boleh menyentuh penyu.
Melalui penyewaan alat yang terjangkau—masker dan snorkel seharga Rp25.000 per jam—Among tidak hanya menjual jasa, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan kepada setiap turis.
Nipah telah membuktikan dirinya sebagai tempat di mana ketenangan laut bertemu dengan kehangatan komunitas, dan di mana setiap snorkeling bukan hanya rekreasi, tetapi juga janji untuk melestarikan. (*)
Berita Lainnya