Berita

14 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Kilic, Drone Bawah Laut Buatan Turki yang Menarik Perhatian Dunia

Perusahaan pertahanan asal Turki, Aselsan, memperkenalkan drone bawah laut dan kapal tempur otonom terbaru yang super canggih. Kapal tanpa awak ini digadang-gadang mampu mengubah wajah peperangan modern di masa depan. 

Dalam ajang eksebisi internasional, SAHA 2026, di Istanbul Turki pada Selasa, 5 Mei 2026 lalu, Aselsan memperkenalkan keluarga sistem bawah laut otonom bernama Kilic serta wahana permukaan tak berawak Tufan.

Kilic menjadi sorotan utama karena dirancang khusus untuk menjalankan misi bawah laut secara senyap dan sulit terdeteksi. Drone ini hadir dalam beberapa varian yang mengutamakan mobilitas tinggi serta kemampuan menyerang dengan tingkat akurasi presisi.

Dalam operasi militer modern, kemampuan seperti ini sangat penting untuk menjalankan misi infiltrasi, sabotase, hingga pengintaian di wilayah berisiko tinggi tanpa melibatkan langsung personel manusia.

Aselsan juga membekali Kilic dengan sensor generasi terbaru, sistem komunikasi canggih, dan teknologi navigasi otomatis yang memungkinkan kendaraan bawah laut tersebut beroperasi secara mandiri. Tidak hanya itu, sistem ini juga mampu bergerak dalam formasi kawanan atau swarm, di mana beberapa unit dapat bekerja sama secara terkoordinasi untuk menjalankan misi tertentu secara simultan.

Konsep swarm dinilai menjadi salah satu masa depan peperangan modern karena memungkinkan serangan lebih efektif, sulit diprediksi, dan mampu menekan risiko kerugian personel.

Di sisi lain, Aselsan turut memperkenalkan Tufan, kapal tanpa awak berkecepatan tinggi yang dirancang untuk menjalankan misi ofensif sekaligus pengawasan intelijen. Wahana ini mampu beroperasi di wilayah pesisir maupun laut lepas dengan kemampuan manuver yang agresif dan tingkat otonomi tinggi.

Tufan juga mendukung operasi berbasis jaringan terintegrasi dan formasi swarm sehingga beberapa unit dapat melakukan pengintaian, pengawasan, hingga serangan presisi dalam waktu bersamaan. Kehadiran Kilic dan Tufan menunjukkan bagaimana teknologi otonom kini mulai menjadi tulang punggung strategi pertahanan modern. Dengan kemampuan operasi tanpa awak yang makin canggih, masa depan peperangan laut diperkirakan akan berubah drastis dalam beberapa tahun mendatang. (*)

Berita Lainnya

29 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Peneliti Temukan Cadangan Air Tawar Terbesar di Dunia Ada di Dasar Laut

Penemuan fenomenal dan unik terjadi saat sekelompok ilmuwan berhasil mendokumentasikan dan mengambil sampel cadangan air tawar raksasa terbesar di dunia. Uniknya, lokasi penemuannya di bawah dasar Samudra Atlantik, tepatnya di laut lepas Pantai Timur Amerika Serikat.

Proyek penelitian bernama IODP³-NSF Expedition 501 tersebut melibatkan 40 ilmuwan dari 13 negara. Tim peneliti berlayar di lepas pantai New England, wilayah selatan Cape Cod, lalu mengebor dasar laut dan mengambil sampel inti sedimen dari lapisan bawahnya.

Hasil pengeboran mengungkap adanya lapisan sedimen sekitar 200 meter di bawah dasar laut yang jenuh oleh air freshened, yakni air laut yang kadar garamnya telah berkurang drastis.

Fenomena itu bisa dibayangkan seperti spons raksasa di bawah laut, mirip akuifer di daratan. Akuifer sendiri merupakan lapisan batuan bawah tanah yang menyimpan air dan sering dimanfaatkan sebagai cadangan air tawar.

Selama puluhan tahun, ilmuwan menduga struktur seperti ini mungkin ada di bawah laut. Beberapa bukti sebelumnya sempat mengarah ke keberadaannya, namun baru kali ini sistem tersebut berhasil didokumentasikan dan diambil sampelnya secara menyeluruh

“Kami sangat antusias melihat air dengan kadar garam rendah ini ternyata berada di berbagai jenis sedimen, baik sedimen laut maupun daratan. Temuan ini membantu kami memahami kondisi yang membuat air tersebut bisa terperangkap di sana,” ujar Brandon Dugan dari Colorado School of Mines, dikutip IFLScience.

Meski begitu, banyak pertanyaan besar masih belum terjawab. Para peneliti belum mengetahui usia pasti air bawah laut tersebut, berapa total volumenya, maupun bagaimana interaksinya dengan air laut di sekitarnya.

Mereka juga menduga ada komunitas mikroba yang hidup di dalamnya, tetapi sejauh ini belum diketahui jenis mikroorganisme tersebut maupun bagaimana mereka bertahan hidup. Asal-usul air ini pun masih menjadi teka-teki.

Salah satu teori menyebut air tawar itu terjebak saat permukaan laut sekitar 100 meter lebih rendah dibanding sekarang. Kemungkinan lain, air tersebut berasal dari bawah lapisan es atau danau glasial pada salah satu periode zaman es sekitar 450 ribu tahun lalu atau 20 ribu tahun lalu.

“Para peneliti akan terus mempelajari sampel ini untuk mengungkap lebih banyak informasi, termasuk menentukan usia air tanah dengan lebih akurat, yang sangat penting untuk memperluas pemahaman kita,” kata Rebecca Robinson dari University of Rhode Island. (*)

28 Mei 2026

Penulis :

Energi Arus Laut, Potensial dan Tersedia Sepanjang Masa

Sekitar 2/3 luas wilayah Indonesia terdiri dari wilayah laut. Dengan mayoritas luas wilayah berupa laut, sudah sepatutnya segala potensi yang berasal dari laut harus dimaksimalkan. Salah satunya adalah potensi energi arus laut, energi yang memanfaatkan kekuatan gelombang, dan perbedaan pasang surut air laut.

Potensi energi dari arus laut ini sangat besar dan akan ada terus sepanjang masa. Potensi energi laut diperkirakan mencapai 60 GW lebih. Sumber kekuatan arus laut paling potensial bisa diambil di selat-selat sempit dengan arus yang kuat, seperti Selat Lombok, Selat Sunda, dan Selat Flores.

Salah satu keunggulan energi laut adalah prediktabilitasnya tinggi. Artinya arus laut dan pasang surut memiliki pola yang sangat teratur dan dapat diprediksi selama bertahun-tahun ke depan, menjadikannya sumber energi yang andal.

Pengembangan industri energi laut sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT) dinilai penting dan perlu segera diakselerasi guna mendukung bauran energi nasional, transisi energi, dan ekonomi biru.

“Kita harus mengakselerasi pemanfaatan energi laut sebagai sumber energi baru dan terbarukan sehingga diperlukan langkah strategis dan implementatif,” kata As Natio Lasman, anggota Dewan Energi Nasional (DEN).

As Natio menekankan bahwa kemajuan Indonesia sangat bergantung pada perkembangan energi sehingga pemanfaatan teknologi harus dapat dikembangkan dan segera dimanfaatkan.“Ke depan, tren pengembangan EBT di laut berpotensi untuk dapat berkontribusi dalam blue economy dan transisi energi,” tegasnya.

Dijelaskan bahwa arus laut di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik arus laut di negara-negara high latitude. Posisi Indonesia yang berada di equator menyebabkan tidak ada gaya Coriolis, sehingga teknologi turbin arus laut yang dikembangkan di Indonesia seharusnya mengacu pada karakteristik arus laut di Indonesia.

“Teknologi  yang dikembangkan oleh negara-negara Eropa atau Asia Timur butuh penyesuaian yang rumit bila diterapkan di Indonesia. BRIN telah mengembangkan teknologi konversi energi arus laut yang disesuaikan dengan karakteristik arus laut di Indonesia,” tambahnya.

Dia menegaskan, Indonesia juga mempunyai pantai terpanjang ke dua di dunia dengan potensi energi gelombang 30 kW/m sehingga secara teoritis potensi energi gelombang di pantai-pantai Indonesia sangat besar.

Demikian juga dengan potensi energi panas laut (OTEC) di kawasan Indonesia Timur yang dapat dimanfaatkan untuk melistriki pulau-pulau 3T.

“BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) sebagai Lembaga penelitian, memiliki kewajiban untuk mengeksplorasi dan mengimplementasikan energi laut sebagai bagian dari proyek percontohan energi baru dan terbarukan nasional.(*)

25 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ahli IPB Ciptakan Lampu LED untuk Tangkap Ikan Tanpa Umpan

Hasil inovasi Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Mochammad Riyanto, cukup unik. Dia mampu mengembangkan teknologi lampu LED berbasis perilaku ikan. Lampu LED khusus ini mampu menarik perhatian ikan untuk datang mendekat. Sehingga, membantu nelayan dalam menangkap ikan di laut.

Dalam keterangan persnya, Riyanto menjelaskan bahwa inovasiLED itu menggunakan pendekatan etologi ikan, yakni mempelajari perilaku ikan terhadap cahaya, pola migrasi, dan kebiasaan makan untuk merancang alat tangkap yang lebih selektif.

“Pendekatan ini mampu mengurangi tangkapan sampingan (bycatch),” ujar Riyanto, Senin (25/5/2026).

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan lampu LED hijau yang dipadukan dengan baterai air laut sebagai sumber energi terbarukan.

Teknologi ini disebut telah menghasilkan dua paten dan dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penangkapan ikan.

Menurut Riyanto, lampu LED hijau bahkan dapat menggantikan umpan alami pada penangkapan ikan kakap merah dan kerapu.

Dalam penerapannya, lampu LED hijau pada jaring insang mampu mengurangi tangkapan penyu hingga 60 persen tanpa menurunkan hasil tangkapan utama.
Sementara itu, penggunaan lampu LED merah disebut dapat menekan tangkapan mimi laut hingga 63 persen mengurangi tangkapan hiu sampai 64 persen pada tahap awal pengujian.

Riyanto menilai pendekatan berbasis perilaku ikan menjadi penting di tengah tekanan terhadap sektor perikanan tangkap Indonesia. Ia menyebut sebagian stok ikan di perairan Indonesia telah berada pada kondisi pemanfaatan maksimal hingga over exploited. Kondisi tersebut diperburuk oleh perubahan iklim, degradasi habitat, dan praktik penangkapan ilegal. Selain teknologi pencahayaan, pengembangan alat tangkap selektif juga dilakukan melalui bycatch reduction devices (BRD), seperti turtle excluder devices (TED) pada perikanan pukat udang di Laut Arafura.

“Pengelolaan perikanan ke depan harus beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi,” kata Riyanto. Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus tetap memperhatikan kesejahteraan nelayan kecil. (*)