Berita

29 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Peneliti Temukan Cadangan Air Tawar Terbesar di Dunia Ada di Dasar Laut

Penemuan fenomenal dan unik terjadi saat sekelompok ilmuwan berhasil mendokumentasikan dan mengambil sampel cadangan air tawar raksasa terbesar di dunia. Uniknya, lokasi penemuannya di bawah dasar Samudra Atlantik, tepatnya di laut lepas Pantai Timur Amerika Serikat.

Proyek penelitian bernama IODP³-NSF Expedition 501 tersebut melibatkan 40 ilmuwan dari 13 negara. Tim peneliti berlayar di lepas pantai New England, wilayah selatan Cape Cod, lalu mengebor dasar laut dan mengambil sampel inti sedimen dari lapisan bawahnya.

Hasil pengeboran mengungkap adanya lapisan sedimen sekitar 200 meter di bawah dasar laut yang jenuh oleh air freshened, yakni air laut yang kadar garamnya telah berkurang drastis.

Fenomena itu bisa dibayangkan seperti spons raksasa di bawah laut, mirip akuifer di daratan. Akuifer sendiri merupakan lapisan batuan bawah tanah yang menyimpan air dan sering dimanfaatkan sebagai cadangan air tawar.

Selama puluhan tahun, ilmuwan menduga struktur seperti ini mungkin ada di bawah laut. Beberapa bukti sebelumnya sempat mengarah ke keberadaannya, namun baru kali ini sistem tersebut berhasil didokumentasikan dan diambil sampelnya secara menyeluruh

“Kami sangat antusias melihat air dengan kadar garam rendah ini ternyata berada di berbagai jenis sedimen, baik sedimen laut maupun daratan. Temuan ini membantu kami memahami kondisi yang membuat air tersebut bisa terperangkap di sana,” ujar Brandon Dugan dari Colorado School of Mines, dikutip IFLScience.

Meski begitu, banyak pertanyaan besar masih belum terjawab. Para peneliti belum mengetahui usia pasti air bawah laut tersebut, berapa total volumenya, maupun bagaimana interaksinya dengan air laut di sekitarnya.

Mereka juga menduga ada komunitas mikroba yang hidup di dalamnya, tetapi sejauh ini belum diketahui jenis mikroorganisme tersebut maupun bagaimana mereka bertahan hidup. Asal-usul air ini pun masih menjadi teka-teki.

Salah satu teori menyebut air tawar itu terjebak saat permukaan laut sekitar 100 meter lebih rendah dibanding sekarang. Kemungkinan lain, air tersebut berasal dari bawah lapisan es atau danau glasial pada salah satu periode zaman es sekitar 450 ribu tahun lalu atau 20 ribu tahun lalu.

“Para peneliti akan terus mempelajari sampel ini untuk mengungkap lebih banyak informasi, termasuk menentukan usia air tanah dengan lebih akurat, yang sangat penting untuk memperluas pemahaman kita,” kata Rebecca Robinson dari University of Rhode Island. (*)

29 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Peneliti Temukan Cadangan Air Tawar Terbesar di Dunia Ada di Dasar Laut

Penemuan fenomenal dan unik terjadi saat sekelompok ilmuwan berhasil mendokumentasikan dan mengambil sampel cadangan air tawar raksasa terbesar di dunia. Uniknya, lokasi penemuannya di bawah dasar Samudra Atlantik, tepatnya di laut lepas Pantai Timur Amerika Serikat.

Proyek penelitian bernama IODP³-NSF Expedition 501 tersebut melibatkan 40 ilmuwan dari 13 negara. Tim peneliti berlayar di lepas pantai New England, wilayah selatan Cape Cod, lalu mengebor dasar laut dan mengambil sampel inti sedimen dari lapisan bawahnya.

Hasil pengeboran mengungkap adanya lapisan sedimen sekitar 200 meter di bawah dasar laut yang jenuh oleh air freshened, yakni air laut yang kadar garamnya telah berkurang drastis.

Fenomena itu bisa dibayangkan seperti spons raksasa di bawah laut, mirip akuifer di daratan. Akuifer sendiri merupakan lapisan batuan bawah tanah yang menyimpan air dan sering dimanfaatkan sebagai cadangan air tawar.

Selama puluhan tahun, ilmuwan menduga struktur seperti ini mungkin ada di bawah laut. Beberapa bukti sebelumnya sempat mengarah ke keberadaannya, namun baru kali ini sistem tersebut berhasil didokumentasikan dan diambil sampelnya secara menyeluruh

“Kami sangat antusias melihat air dengan kadar garam rendah ini ternyata berada di berbagai jenis sedimen, baik sedimen laut maupun daratan. Temuan ini membantu kami memahami kondisi yang membuat air tersebut bisa terperangkap di sana,” ujar Brandon Dugan dari Colorado School of Mines, dikutip IFLScience.

Meski begitu, banyak pertanyaan besar masih belum terjawab. Para peneliti belum mengetahui usia pasti air bawah laut tersebut, berapa total volumenya, maupun bagaimana interaksinya dengan air laut di sekitarnya.

Mereka juga menduga ada komunitas mikroba yang hidup di dalamnya, tetapi sejauh ini belum diketahui jenis mikroorganisme tersebut maupun bagaimana mereka bertahan hidup. Asal-usul air ini pun masih menjadi teka-teki.

Salah satu teori menyebut air tawar itu terjebak saat permukaan laut sekitar 100 meter lebih rendah dibanding sekarang. Kemungkinan lain, air tersebut berasal dari bawah lapisan es atau danau glasial pada salah satu periode zaman es sekitar 450 ribu tahun lalu atau 20 ribu tahun lalu.

“Para peneliti akan terus mempelajari sampel ini untuk mengungkap lebih banyak informasi, termasuk menentukan usia air tanah dengan lebih akurat, yang sangat penting untuk memperluas pemahaman kita,” kata Rebecca Robinson dari University of Rhode Island. (*)

28 Mei 2026

Penulis :

Energi Arus Laut, Potensial dan Tersedia Sepanjang Masa

Sekitar 2/3 luas wilayah Indonesia terdiri dari wilayah laut. Dengan mayoritas luas wilayah berupa laut, sudah sepatutnya segala potensi yang berasal dari laut harus dimaksimalkan. Salah satunya adalah potensi energi arus laut, energi yang memanfaatkan kekuatan gelombang, dan perbedaan pasang surut air laut.

Potensi energi dari arus laut ini sangat besar dan akan ada terus sepanjang masa. Potensi energi laut diperkirakan mencapai 60 GW lebih. Sumber kekuatan arus laut paling potensial bisa diambil di selat-selat sempit dengan arus yang kuat, seperti Selat Lombok, Selat Sunda, dan Selat Flores.

Salah satu keunggulan energi laut adalah prediktabilitasnya tinggi. Artinya arus laut dan pasang surut memiliki pola yang sangat teratur dan dapat diprediksi selama bertahun-tahun ke depan, menjadikannya sumber energi yang andal.

Pengembangan industri energi laut sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT) dinilai penting dan perlu segera diakselerasi guna mendukung bauran energi nasional, transisi energi, dan ekonomi biru.

“Kita harus mengakselerasi pemanfaatan energi laut sebagai sumber energi baru dan terbarukan sehingga diperlukan langkah strategis dan implementatif,” kata As Natio Lasman, anggota Dewan Energi Nasional (DEN).

As Natio menekankan bahwa kemajuan Indonesia sangat bergantung pada perkembangan energi sehingga pemanfaatan teknologi harus dapat dikembangkan dan segera dimanfaatkan.“Ke depan, tren pengembangan EBT di laut berpotensi untuk dapat berkontribusi dalam blue economy dan transisi energi,” tegasnya.

Dijelaskan bahwa arus laut di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik arus laut di negara-negara high latitude. Posisi Indonesia yang berada di equator menyebabkan tidak ada gaya Coriolis, sehingga teknologi turbin arus laut yang dikembangkan di Indonesia seharusnya mengacu pada karakteristik arus laut di Indonesia.

“Teknologi  yang dikembangkan oleh negara-negara Eropa atau Asia Timur butuh penyesuaian yang rumit bila diterapkan di Indonesia. BRIN telah mengembangkan teknologi konversi energi arus laut yang disesuaikan dengan karakteristik arus laut di Indonesia,” tambahnya.

Dia menegaskan, Indonesia juga mempunyai pantai terpanjang ke dua di dunia dengan potensi energi gelombang 30 kW/m sehingga secara teoritis potensi energi gelombang di pantai-pantai Indonesia sangat besar.

Demikian juga dengan potensi energi panas laut (OTEC) di kawasan Indonesia Timur yang dapat dimanfaatkan untuk melistriki pulau-pulau 3T.

“BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) sebagai Lembaga penelitian, memiliki kewajiban untuk mengeksplorasi dan mengimplementasikan energi laut sebagai bagian dari proyek percontohan energi baru dan terbarukan nasional.(*)

25 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ahli IPB Ciptakan Lampu LED untuk Tangkap Ikan Tanpa Umpan

Hasil inovasi Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Mochammad Riyanto, cukup unik. Dia mampu mengembangkan teknologi lampu LED berbasis perilaku ikan. Lampu LED khusus ini mampu menarik perhatian ikan untuk datang mendekat. Sehingga, membantu nelayan dalam menangkap ikan di laut.

Dalam keterangan persnya, Riyanto menjelaskan bahwa inovasiLED itu menggunakan pendekatan etologi ikan, yakni mempelajari perilaku ikan terhadap cahaya, pola migrasi, dan kebiasaan makan untuk merancang alat tangkap yang lebih selektif.

“Pendekatan ini mampu mengurangi tangkapan sampingan (bycatch),” ujar Riyanto, Senin (25/5/2026).

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan lampu LED hijau yang dipadukan dengan baterai air laut sebagai sumber energi terbarukan.

Teknologi ini disebut telah menghasilkan dua paten dan dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penangkapan ikan.

Menurut Riyanto, lampu LED hijau bahkan dapat menggantikan umpan alami pada penangkapan ikan kakap merah dan kerapu.

Dalam penerapannya, lampu LED hijau pada jaring insang mampu mengurangi tangkapan penyu hingga 60 persen tanpa menurunkan hasil tangkapan utama.
Sementara itu, penggunaan lampu LED merah disebut dapat menekan tangkapan mimi laut hingga 63 persen mengurangi tangkapan hiu sampai 64 persen pada tahap awal pengujian.

Riyanto menilai pendekatan berbasis perilaku ikan menjadi penting di tengah tekanan terhadap sektor perikanan tangkap Indonesia. Ia menyebut sebagian stok ikan di perairan Indonesia telah berada pada kondisi pemanfaatan maksimal hingga over exploited. Kondisi tersebut diperburuk oleh perubahan iklim, degradasi habitat, dan praktik penangkapan ilegal. Selain teknologi pencahayaan, pengembangan alat tangkap selektif juga dilakukan melalui bycatch reduction devices (BRD), seperti turtle excluder devices (TED) pada perikanan pukat udang di Laut Arafura.

“Pengelolaan perikanan ke depan harus beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi,” kata Riyanto. Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus tetap memperhatikan kesejahteraan nelayan kecil. (*)

24 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ini Tiga Alat Sederhana Penyelamat Nyawa jika Berkegiatan di Laut

Berkegiatan di alam bebas, khususnya laut dan hutan, perlu persiapan alat dan fisik yang matang. Sebab, alam liar tidak bisa diprediksi 100 persen tepat dan bisa berubah setiap waktu. Nah, inilah tiga alat sederhana, mudah dibawa namun sangat penting sebagai faktor penyelamat nyawa kita jika terjadi hal tak terduga di tengah alam liar. Tiga alat itu adalah senter, peluit dan kaca. Kok bisa? Simak penjelasan berikut.

Menurut Kepala Kantor SAR Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Abdul Rahman, benda-benda sederhana tersebut memiliki peran penting dalam membantu proses pencarian dan penyelamatan saat kondisi darurat terjadi di alam liar.

"Peluit, senter, dan cermin, dapat menjadi alat komunikasi darurat ketika seseorang mengalami musibah atau tersesat," katanya.

Dalam kondisi darurat, sinyal bahaya dapat disampaikan menggunakan peluit maupun cahaya untuk mempermudah tim penyelamat menemukan lokasi korban lebih cepat atau menjadi penanda bahwa seseorang sedang berada dalam situasi genting dan membutuhkan pertolongan.

Kode darurat dengan menggunakan ketiga alat itu dinilai lebih efektif karena bersifat umum, sehingga dapat dipahami oleh siapa saja tanpa bergantung pada bahasa maupun jaringan komunikasi.

Peluit merupakan kode yang bisa ditangkap melalui pendengaran. Untuk penggunaannya, sinyal darurat disampaikan melalui bunyi dengan pola tiga kali tiupan pendek, tiga kali tiupan panjang, lalu tiga kali tiupan pendek lagi.

Melalui pola tersebut, tim penyelamat maupun orang di sekitar dapat mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang meminta pertolongan atau berada dalam kondisi darurat.

Sementara itu senter dan cermin digunakan sebagai sinyal darurat melalui cahaya yang dapat ditangkap dengan penglihatan.

Cahaya senter dapat digunakan pada malam hari atau saat kondisi berkabut. Sedangkan cermin dimanfaatkan untuk memantulkan cahaya matahari, bulan, atau sumber cahaya lain ke arah sekitar maupun ke udara sebagai penanda lokasi.

Pola isyarat yang diberikan mirip dengan bunyi, yakni tiga kali kedipan cahaya pendek, tiga kali panjang dan kembali pada kedipan pendek'Jika hanya menggunakan suara dengan berteriak meminta tolong, itu tidak terlalu efektif karena biasanya hanya terdengar sekitar 50 meter dan bisa tertutup suara ombak laut maupun angin. Selain itu penggunaan alat seperti peluit juga tidak membutuhkan banyak tenaga," katanya.

Selain membawa perlengkapan sederhana tersebut, masyarakat juga diingatkan untuk menyiapkan alat keselamatan lain, seperti pelampung dan radio komunikasi saat melaut.

Ia menyampaikan pemberitahuan rencana perjalanan kepada keluarga atau kerabat sebelum berangkat, baik saat pergi melaut maupun masuk ke kawasan hutan, juga merupakan hal penting lain yang perlu dilakukan. (*)

21 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Harga Meroket di Pasaran, Kuda Laut Terancam Punah

Perburuan kuda laut semakin meningkat. Ini setelah kebutuhan kuda laut kering sebagai bahan baku obat tradisional semakin tinggi. Akibatnya harga melambung tinggi. Jika tidak dikelola dan diatur sejak dini, bisa jadi kuda laut akan punah diburu manusia.

Menurut Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masayu Rahmia Anwar Putri, tingginya nilai ekonomi membuat pemanfaatan kuda laut terus terjadi, dengan harga bisaenembus angka Rp 8 juta per kilogram. 

“Bayangkan kalau satu kampung mengambil kuda laut semua, kita tidak akan menemukannya lagi di daerah tersebut dan bisa punah,” katanya.

BRIN bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan rekomendasi kuota pemanfaatan kuda laut untuk kebutuhan perdagangan, penelitian, maupun indukan budi daya.
Masayu menekankan, pengelolaan kuda laut tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah karena luasnya wilayah perairan Indonesia dan keterbatasan jumlah personel.

Karena itu, Masayu mendorong masyarakat pesisir turut aktif melaporkan tangkapan, menjaga habitat, serta menyebarkan pengetahuan mengenai pentingnya konservasi kuda laut.
Kalau masyarakat pesisir tidak mau berkontribusi, kita tidak bisa mendapatkan data yang sebenarnya,” kata Masayu.

Pemahaman masyarakat terhadap keunikan dan ekologi kuda laut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga keberlanjutan spesies tersebut di alam.

Hingga saat ini tercatat 13 spesies kuda laut tersebar di berbagai wilayah perairan Indonesia. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring perkembangan riset dan penemuan spesies baru. (*)

20 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

'Sobat', Tradisi Unik Nelayan Derawan Memburu Tuna

Ada sebuah tradisi unik yang biasa dilakukan oleh para nelayan di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Utara. Sebuah tradisi yang biasa disebut 'Sobat'. Di mana, pada musim tertentu, para nelayan turun beramai-ramai membawa pukat tradisional untuk menangkap ikan tuna.

Aktivitas memukat ikan tersebut masih terus dipertahankan oleh kelompok nelayan pesisir hingga sekarang. Selain menjadi sumber penghasilan warga, tradisi itu perlahan berkembang menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi “sobat” memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan.
“Tradisi ini kini menjadi destinasi wisata budaya dan wisata bahari di Berau,” katanya, Rabu (20/5). 

Tradisi ini biasanya berlangsung mulai Maret hingga Oktober, menyesuaikan musim saat ikan tuna banyak mendekat ke kawasan Pulau Derawan. Di momen tersebut, nelayan akan turun ke laut menggunakan pukat sederhana secara berkelompok. Gerakan menarik jaring bersama-sama di tengah laut dangkal dengan latar pasir putih dan air jernih menjadi pemandangan khas yang sulit ditemukan di daerah lain.

Menurut Gamalis, tradisi seperti ini penting dijaga karena menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir Derawan, termasuk budaya melaut warga Suku Bajau yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Ia menilai sektor perikanan dan pariwisata di Berau sebenarnya dapat tumbuh beriringan tanpa harus saling menggeser.

“Tradisi masyarakat pesisir seperti ini memperlihatkan kehidupan asli warga Derawan dan justru bisa memperkuat citra wisata daerah,” katanya.

Potensi itu terlihat dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Derawan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan tercatat mencapai 45.274 orang atau naik sekitar 32,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas berasal dari wisatawan nusantara, sementara ribuan lainnya datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara Eropa. (*)

18 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Kuda Laut Indikator Kesehatan Ekosistem Laut

Kuda laut berperan penting sebagai indikator kesehatan ekosistem laut. Keberadaan kuda laut di wilayah lamun, bakau, maupun terumbu karang menunjukkan kondisi lingkungan yang masih baik dan mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.

Menurut Kepala Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Decky Indrawan Junaedi, menurunnya populasi kuda laut dapat menjadi penanda adanya degradasi lingkungan pesisir yang berpotensi memengaruhi stok ikan dan keberlanjutan perikanan masyarakat.

“Dengan kita mengonservasi kuda laut – mengonservasi artinya menjaga, kita melindungi, jangan sampai dia punah, itu sebetulnya secara tidak langsung kita menjaga lingkungannya, termasuk menjaga ikan-ikan yang di sana tetap bisa beranak-pinak,” jelas Decky dalam sebuah lokakarya di Jakarta, Senin (18/05/2026.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat pesisir dalam mendukung keberlanjutan kuda laut. “Bila si kuda laut ini masih ada, Ibu dan Bapak, ini berarti kondisi lingkungan tempat tinggalnya masih membuat dia betah tinggal di sana, karena memang kondisinya masih baik,” kata Decky.
Ia menyampaikan, isu maritim, termasuk konservasi dan perikanan, menjadi salah satu agenda riset utama BRIN. Menurutnya, BRIN terus aktif mendukung kebutuhan penelitian yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut melalui kerja sama dengan kementerian, pemerintah daerah, maupun organisasi nonpemerintah.

Kegiatan ini mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan mitra internasional untuk mendiskusikan kondisi ekosistem pesisir, konservasi kuda laut, serta keberlanjutan perikanan Indonesia. (*)

17 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Duta Maritim Indonesia Ajak Pemuda Peduli Isu Kelautan

Duta Maritim Indonesia 2025, Vina Avitasari dan Muhammad Rizky, mengajak generasi muda lebih peduli terhadap isu kemaritiman dan lingkungan pesisir.

“Indonesia bukan hanya negara maritim, tapi harus menjadi poros maritim dunia,” kata Vina dalam sebuah wawancara dalam sebuah talkshow di salah satu radio tanah air.

Vina Avitasari mengatakan, menjadi Duta Maritim Indonesia bukan sekadar gelar, tetapi bentuk tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Menurutnya, anak muda harus mulai mengambil peran dalam menjaga lingkungan pesisir, termasuk melalui langkah sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga ekosistem laut. “Kalau bukan anak muda yang menjaga laut Indonesia, siapa lagi,” ucapnya.

Vina juga menilai Provinsi Banten memiliki potensi maritim yang besar karena memiliki garis pantai panjang serta kawasan pelabuhan strategis.

Namun, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui perhatian terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Selain edukasi, keduanya juga aktif mengembangkan inovasi pengolahan limbah kerang menjadi pupuk dan briket sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pengelolaan lingkungan maritim. Mereka berharap semakin banyak anak muda terlibat dalam gerakan menjaga laut dan pesisir Indonesia secara berkelanjutan.

Sementara itu, Muhammad Rizky mengatakan, peran anak muda sangat penting dalam menjaga potensi maritim Indonesia yang luas. Menurutnya, generasi muda tidak hanya harus bangga menjadi bagian dari negara maritim, tetapi juga ikut terlibat dalam menjaga dan mengembangkan sektor tersebut.

Rizky menjelaskan, Duta Maritim Indonesia memiliki tugas menyuarakan isu-isu kemaritiman mulai dari pembangunan pesisir, edukasi lingkungan, hingga inovasi ekonomi berbasis laut. Ia menilai masih banyak generasi muda yang belum memahami potensi besar sektor maritim Indonesia.
Karena itu, ia bersama komunitas yang dibinanya aktif melakukan edukasi kepada anak-anak dan pemuda, khususnya di wilayah perkotaan. Program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran bahwa Indonesia memiliki kekayaan laut yang harus dijaga bersama.

“Kita ingin anak-anak tahu kalau Indonesia punya laut yang luas dan banyak potensi,” pungkasnya. (*)

14 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Kilic, Drone Bawah Laut Buatan Turki yang Menarik Perhatian Dunia

Perusahaan pertahanan asal Turki, Aselsan, memperkenalkan drone bawah laut dan kapal tempur otonom terbaru yang super canggih. Kapal tanpa awak ini digadang-gadang mampu mengubah wajah peperangan modern di masa depan. 

Dalam ajang eksebisi internasional, SAHA 2026, di Istanbul Turki pada Selasa, 5 Mei 2026 lalu, Aselsan memperkenalkan keluarga sistem bawah laut otonom bernama Kilic serta wahana permukaan tak berawak Tufan.

Kilic menjadi sorotan utama karena dirancang khusus untuk menjalankan misi bawah laut secara senyap dan sulit terdeteksi. Drone ini hadir dalam beberapa varian yang mengutamakan mobilitas tinggi serta kemampuan menyerang dengan tingkat akurasi presisi.

Dalam operasi militer modern, kemampuan seperti ini sangat penting untuk menjalankan misi infiltrasi, sabotase, hingga pengintaian di wilayah berisiko tinggi tanpa melibatkan langsung personel manusia.

Aselsan juga membekali Kilic dengan sensor generasi terbaru, sistem komunikasi canggih, dan teknologi navigasi otomatis yang memungkinkan kendaraan bawah laut tersebut beroperasi secara mandiri. Tidak hanya itu, sistem ini juga mampu bergerak dalam formasi kawanan atau swarm, di mana beberapa unit dapat bekerja sama secara terkoordinasi untuk menjalankan misi tertentu secara simultan.

Konsep swarm dinilai menjadi salah satu masa depan peperangan modern karena memungkinkan serangan lebih efektif, sulit diprediksi, dan mampu menekan risiko kerugian personel.

Di sisi lain, Aselsan turut memperkenalkan Tufan, kapal tanpa awak berkecepatan tinggi yang dirancang untuk menjalankan misi ofensif sekaligus pengawasan intelijen. Wahana ini mampu beroperasi di wilayah pesisir maupun laut lepas dengan kemampuan manuver yang agresif dan tingkat otonomi tinggi.

Tufan juga mendukung operasi berbasis jaringan terintegrasi dan formasi swarm sehingga beberapa unit dapat melakukan pengintaian, pengawasan, hingga serangan presisi dalam waktu bersamaan. Kehadiran Kilic dan Tufan menunjukkan bagaimana teknologi otonom kini mulai menjadi tulang punggung strategi pertahanan modern. Dengan kemampuan operasi tanpa awak yang makin canggih, masa depan peperangan laut diperkirakan akan berubah drastis dalam beberapa tahun mendatang. (*)

13 Mei 2026

Penulis : Folger Siallagan

Bom Ikan Marah di Perairan NTT

Kerusakan ekosistem. Laut di perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin parah. Selain pencemaran dan polusi, praktik bom ikan menjadi faktor yang memperparah kerusakan tersebut. Polisi terus memperketat dan menindak tegas para pelaku bom ikan yang makin merajalela di laut NTT.

Yang terbaru adalah seorang nelayan asal Kabupaten Sikka ditetapkan sebagai buronan karena diduga menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan.

Direktorat Polisi Perairan dan Udara Polda NTT menerbitkan Daftar Pencarian Orang terhadap pria berinisial UM.

Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra mengatakan, praktik bom ikan menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut di wilayah Flores dan sekitarnya.

Selain menghancurkan terumbu karang, penggunaan bahan peledak juga mengancam keberlanjutan hasil tangkapan nelayan tradisional.
Kerusakan laut di perairan NTT pada 2026 didominasi oleh pencemaran sampah plastik, tumpahan minyak kapal, dan pengeboman ikan, yang menyebabkan terdamparnya paus, rusaknya terumbu karang, serta degradasi ekosistem di Laut Sawu dan Alor. Dampak ini merusak biota laut, memicu penurunan kualitas air, dan mengancam pariwisata. 

Aktivitas pengeboman ikan masih ditemukan, terutama di wilayah utara Flores, yang menghancurkan terumbu karang dan ekosistem laut. Kapal karam, seperti yang terjadi di Selat Pantar, Alor, merusak puluhan spot karang di wilayah suaka alam peairan (SAP).

“Tersangka masuk dalam daftar pencarian orang karena diduga terlibat dalam praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak yang sangat merusak lingkungan laut dan melanggar hukum,” kata Henry dilansir dari Tribrata News NTT.

DPO tersebut diterbitkan berdasarkan nomor DPO/01/VI/2026/Ditpolairud tertanggal 12 Mei 2026.
Dalam perkara itu, tersangka dijerat Pasal 306 KUHP serta Pasal 84 Undang-Undang Perikanan.

Polisi menyebutkan, tersangka diketahui bernama Umar, lahir di Parumaan pada 6 Desember 1984 dan bekerja sebagai nelayan.

Ia diketahui berdomisili terakhir di wilayah Parumaan B, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.
Kabidhumas menegaskan, Polda NTT akan bertindak tegas terhadap seluruh pelaku illegal fishing yang merusak lingkungan laut.

Menurutnya, penegakan hukum tidak hanya menyasar pelaku utama, tetapi juga pihak-pihak yang mencoba membantu tersangka menghindari proses hukum. (*)