Berita
10 Mei 2023
Penulis : Folber Siallagan
Mengunjungi Pesona Pusentasi, Sumur Pusat Laut di Donggala
Ada satu sumur raksasa yang sangat unik dan menarik di Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Bentuknya sangat besar dan dalam. Yang membuat unik, sumur ini berhubung ke laut sehingga airnya biru dan bening. Pada wisatawan pun beramai-ramai mendatangi.
Sumur raksasa atau oleh warga lokal disebut Pusentasi atau pusat laut ini berjarak sekitar sekitar 50 km dari Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah. Atau sekitar 1,5 jam perjalanan darat melewati jalan raya yang susah dibangun dengan bagus.
Mengunjungi Desa Wisata Pusat Laut Donggala, pelancong juga hanya dikenai biaya tiket masuk Rp2.500 per orang.
Menurut cerita masyarakat lokal, Pusat Laut terbentuk berdasarkan peristiwa alami akibat ambrolnya tanah secara tiba-tiba ke dalam tanah yang bentuknya kemudian melingkar seperti sebuah sumur. Ternyata di bawah ada aliran air laut.
Sumur besar itu berdiameter 10 meter dan mempunyai kedalaman sekitar 7 meter. Air di dalamnya berwarna biru jernih dan rasanya asin seperti air laut.
Panasnya cuaca khas pesisir sembari melihat birunya sumur laut seakan menyihir para pengunjung untuk segera meloncat ke dalam lubang besar ini. Disediakan pula tangga bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi berenang di sumur itu.
Bagi warga lokal, melompat dari ketinggian tersebut merupakan hal yang biasa. Panasnya terik matahari akan sirna seketika sesaat setelah tubuh mencebur ke dalam air. Airnya sangat sejuk dan bersih. Banyak wisatawan yang penasaran dan mencoba ikut terjun ke dalam. Tidak perlu takut untuk naik ke atas sumur karena sudah disediakan tangga.
Untuk wisatawan yang tidak mau masuk ke sumur mereka biasanya melempar sejumlah uang koin untuk diperebutkan anak-anak warga lokal yang berkumpul di dalam sumur. Setiap koin yang didapatkan akan dimiliki oleh masing-masing anak yang mendapatkan sehingga itu menjadi alasan mengapa anak-anak berebut untuk mendapatkan koin yang dilempar pengunjung.
"Kalau lagi ramai (wisatawan), saya bisa dapat Rp 200 Ribu sehari," kata Delvi. Ia mengaku uang yang didapatkan untuk membantu keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak jauh dari sumur raksasa itu, terdapat Pantai Donggala yang terkenal dengan pasir putihnya. Pesisir pantai yang indah untuk berjemur menikmati sinar surya serta pepohonan rindang, cocok untuk menjadi tempat menghilangkan lelah sejenak.
Pantai ini sangat cocok bagi para wisatawan yang ingin menikmati cahaya Matahari terbenam. Di tempat itu, bagi pengunjung yang ingin menginap atau berkemah bersama keluarga juga diperbolehkan.
Manager Pengelola Desa Wisata Pusat Laut Donggala, Suharman, mengatakan wisata tersebut akan mencapai puncak keramaian pada saat libur panjang atau seperti pada saat libur Lebaran.
"Kalau pas musim libur pengunjung bisa mencapai sampai 2.000 setiap hari," kata Suharman. Namun di hari biasa rata-rata hanya 500 wisatawan yang datang. (*)
Berita Lainnya
20 Mei 2026
Penulis : Folber Siallagan
'Sobat', Tradisi Unik Nelayan Derawan Memburu Tuna
Ada sebuah tradisi unik yang biasa dilakukan oleh para nelayan di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Utara. Sebuah tradisi yang biasa disebut 'Sobat'. Di mana, pada musim tertentu, para nelayan turun beramai-ramai membawa pukat tradisional untuk menangkap ikan tuna.
Aktivitas memukat ikan tersebut masih terus dipertahankan oleh kelompok nelayan pesisir hingga sekarang. Selain menjadi sumber penghasilan warga, tradisi itu perlahan berkembang menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi “sobat” memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan.
“Tradisi ini kini menjadi destinasi wisata budaya dan wisata bahari di Berau,” katanya, Rabu (20/5).
Tradisi ini biasanya berlangsung mulai Maret hingga Oktober, menyesuaikan musim saat ikan tuna banyak mendekat ke kawasan Pulau Derawan. Di momen tersebut, nelayan akan turun ke laut menggunakan pukat sederhana secara berkelompok. Gerakan menarik jaring bersama-sama di tengah laut dangkal dengan latar pasir putih dan air jernih menjadi pemandangan khas yang sulit ditemukan di daerah lain.
Menurut Gamalis, tradisi seperti ini penting dijaga karena menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir Derawan, termasuk budaya melaut warga Suku Bajau yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Ia menilai sektor perikanan dan pariwisata di Berau sebenarnya dapat tumbuh beriringan tanpa harus saling menggeser.
“Tradisi masyarakat pesisir seperti ini memperlihatkan kehidupan asli warga Derawan dan justru bisa memperkuat citra wisata daerah,” katanya.
Potensi itu terlihat dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Derawan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan tercatat mencapai 45.274 orang atau naik sekitar 32,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas berasal dari wisatawan nusantara, sementara ribuan lainnya datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara Eropa. (*)