Berita
17 Jul 2025
Penulis : Folber Siallagan
Kelomang, Hewan Kecil Penjaga Ekosistem Laut
Kelomang atau umang-umang salah satu hewan kecil yang hidup di pantai rupanya memiliki peran penting bagi ekosistem di laut. Hewan yang memiliki cangkak pelindung tubuh ini bisa menjadi petunjuk tingkat polusi dan kerusakan suatu habitat di laut atau pantai. Para peneliti masih terus mempelajari hewan ini, baik dari sisi fungsi ekologis maupun potensi sebagai bioindikator kesehatan lingkungan laut.
"Kelomang bisa jadi ‘penjaga’ kecil yang memberi tanda kalau ekosistem sedang dalam bahaya,” kata Tiyani, peneliti Pusat Riset Oseanografi (PRO) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Tiyani, dengan memahami persebaran dan preferensi habitatnya, kita bisa tahu seberapa sehat ekosistem di laut.
Dikatakan Tiyani, kelomang yang merupakan keluarga Diogenidae, memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut Indonesia.
Menurut hasil riset BRIN, penyebaran geografis dan habitat favorit kelomang tersebar dari perairan dangkal hingga laut dalam di Indonesia.
Sejak abad ke-19, para ilmuwan mencatat lebih dari 200 spesies kelomang di Indonesia, dengan keluarga Diogenidae tercatat paling kaya jenis. Penelitian terbaru ini menyumbangkan data spesimen tambahan dari 1989 hingga 2024, termasuk koleksi yang tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense.
“Terdapat 115 spesies Diogenidae yang tersebar luas di 12 ekoregion laut Indonesia, dengan Clibanarius sebagai genus paling dominan,” katanya.
Menariknya, wilayah Laut Banda tercatat sebagai kawasan dengan keragaman genus tertinggi.
Dari sisi kedalaman, sekitar 75 persen spesies ditemukan di zona litoral. Sementara, sebagian kecil lainnya mencapai kedalaman hingga 727 meter. Ini menunjukkan daya adaptasi luar biasa terhadap variasi habitat. “Salah satu spesies, Paguropsis andersoni, hidup mulai dari zona litoral hingga batial di kedalaman kurang lebih 500 m,” jelas Tyani.
Penelitiannya ini juga mengungkap preferensi substrat yang beragam. Artinya, kelomang suka tinggal di berbagai habitat, yaitu pasir pantai, terumbu karang, hutan mangrove, sampai batu-batu di pesisir. Sementara, tempat favorit mereka yaitu pantai berbatu dan pasir halus. Karena di sanalah mereka bisa mencari cangkang dan makanan dengan lebih mudah. (*)
Berita Lainnya
20 Mei 2026
Penulis : Folber Siallagan
'Sobat', Tradisi Unik Nelayan Derawan Memburu Tuna
Ada sebuah tradisi unik yang biasa dilakukan oleh para nelayan di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Utara. Sebuah tradisi yang biasa disebut 'Sobat'. Di mana, pada musim tertentu, para nelayan turun beramai-ramai membawa pukat tradisional untuk menangkap ikan tuna.
Aktivitas memukat ikan tersebut masih terus dipertahankan oleh kelompok nelayan pesisir hingga sekarang. Selain menjadi sumber penghasilan warga, tradisi itu perlahan berkembang menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi “sobat” memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan.
“Tradisi ini kini menjadi destinasi wisata budaya dan wisata bahari di Berau,” katanya, Rabu (20/5).
Tradisi ini biasanya berlangsung mulai Maret hingga Oktober, menyesuaikan musim saat ikan tuna banyak mendekat ke kawasan Pulau Derawan. Di momen tersebut, nelayan akan turun ke laut menggunakan pukat sederhana secara berkelompok. Gerakan menarik jaring bersama-sama di tengah laut dangkal dengan latar pasir putih dan air jernih menjadi pemandangan khas yang sulit ditemukan di daerah lain.
Menurut Gamalis, tradisi seperti ini penting dijaga karena menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir Derawan, termasuk budaya melaut warga Suku Bajau yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Ia menilai sektor perikanan dan pariwisata di Berau sebenarnya dapat tumbuh beriringan tanpa harus saling menggeser.
“Tradisi masyarakat pesisir seperti ini memperlihatkan kehidupan asli warga Derawan dan justru bisa memperkuat citra wisata daerah,” katanya.
Potensi itu terlihat dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Derawan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan tercatat mencapai 45.274 orang atau naik sekitar 32,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas berasal dari wisatawan nusantara, sementara ribuan lainnya datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara Eropa. (*)