Berita
3 Mei 2026
Penulis : Folber Siallagan
Ikan Raja Laut, Dinyatakan Punah Tiba-Tiba Muncul Lagi
Coelacanth atau ikan raja laut telah dinyatakan punah sejak 66 juta tahun lalu. Namun ternyata, pada tahun 1997 lalu, ikan ini tiba-tiba ditemukan lagi di laut. Dunia heboh dan gempar.
Selain di Indonesia, spesies laut dari zaman purba ini juga ditemukan secara ajaib di perairan Benua Afrika, tepatnya perairan Afrika Selatan yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.
Coelacanth Sulawesi atau bernama Latin Latimeria Menadoensis, ditemukan pertama kali di perairan Manado, Sulawesi Utara. Penemuan itu menggemparkan dunia, karena fisiknya sangat mirip dengan nenek moyangnya dari periode Cretaceous.
Morfologi ikan tersebut memang sangat unik, berbeda dari kebanyakan ikan moderen yang saat ini ada. Di Indonesia, warnanya cenderung cokelat keemasan, berbeda dengan saudara tuanya di Afrika, Latimeria chalumnae yang tubuhnya didominasi biru keabu-abuan.
Keduanya adalah ikan bersirip lobus (sarcopterygians) ukuran besar yang biasa menghuni gua-gua laut di kedalaman sekitar 150-200 meter.
Ukurannya terbilang besar, karena bisa mencapai panjang dua meter dengan berat sekitar 100 kilogram.
Jarak usia penemuan keduanya juga sangat jauh, karena terpisah 59 tahun. Ikan spesies Afrika pertama kali ditemukan pada 1938 di atas kapal pukat ikan lokal, milik seorang kurator museum.
Selain bersirip lobus, keunikan Coelacanth adalahnmereka kerabat terdekat tetrapoda dan memiliki beberapa ciri morfologi-anatomi yang tidak ditemukan pada vertebrata yang lebih jauh kekerabatannya, seperti ikan bersirip jari.
Sebelum ditemukan, Coelacanth memiliki dua spesies dalam, yaitu genus Latimeria yang bertahan hingga kini serta Mawsoniidae yang sudah punah puluhan juta tahun lalu.
Meski demikian, dibandingkan dengan saudara tuanya dari Kepulauan Komoro di lepas pantai timur Afrika, ikan raja laut di perairan lepas Sulawesi dinilai masih sangat sulit dikenali karena jarangnya manusia mendokumentasikan.
Kesulitan itu terjadi, karena raja laut lebih menyukai habitat terumbu karang dalam, dan itu masih sulit dijangkau manusia untuk melakukan pengamatan langsung. Kalaupun bisa, harus menggunakan teknologi seperti kapal selam atau kendaraan yang dioperasikan jarak jauh (ROV). (*)
Berita Lainnya