Berita

8 Sep 2022

Penulis : Hasuna Daylailatu

3 Jenis Tug Boat Yang Paling Banyak Digunakan

Dalam industri maritim, secara mayoritas ada tiga jenis tug boat yang dioperasikan, yaitu conventional tug atau kapal tunda konvensional, tractor tug atau kapal tunda traktor, dan azimuth stern drive (ASD) tug atau kapal tunda penggerak buritan azimuth.

Conventional Tug

Kapal tunda ini telah dipakai selama beberapa generasi. Pembuatannya didasarkan pada prinsip pengembangan kapal tunda tertua. Meski kemampuan manuvernya lebih rendah, conventional tug masih digunakan di hampir seluruh pelabuhan dunia.

Namun, dengan kemajuan teknologi, conventional tug kini dilengkapi dengan mesin diesel dengan satu atau beberapa baling-baling.

Kapal tunda konvensional sangat dapat diandalkan. Ada beberapa komponen penting di kapal ini, yaitu kemudi yang klask, buritan yang terdiri dari kompleks pembangkit listrik, dan pengait penarik di bagian tengah kapal.

Tractor Tug

Kunci dari kapal tunda yang satu ini adalah penggunaan unit penggerak dua arah. Hal ini memungkinkan unit dorong dari kapal tunda untuk ditempatkan secara berdampingan. Sehingga, kemampuan bermanuver secara maksimal bisa dilakukan di tangan yang tepat.

Di kapal tunda traktor, titik penarik bisa ditempatkan lebih dekat ke buritan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Itu sebabnya, gaya dorong selalu berada di luar titik penarik, sehingga momen berputar positif bisa tercipta dengan baik.

Besar kecilnya gaya dorong ditentukan oleh cakram yang berputar. Kapal tunda traktor menjadi sangat serbaguna lantaran tali penariknya bisa dikerjakan langsung dari drum winch dengan remote control dari anjungan. Sehingga, rentang tali bisa diubah secara mudah sesuai keinginan penariknya. Selain itu, ketepatan dalam bermanuver menjadikan kapal tunda traktor sebagai kapal tunda yang terbanyak digunakan.

ASD Tug

Bisa dibilang, ASD tug merupakan kapal tunda yang memadukan kapal tunda konvensional dan kapal tunda traktor. Sebab, beberapa keunggulan dari kedua kapal tunda tersebut dimanfaatkan di sini. ASD tug memiliki dua lokasi penarik, yaitu di depan dan tengah. Propulsi utamanya berasal dari dua unit azimuth berputar yang ditempatkan seperti tug ulir kembar tradisional.

 

Sumber: marineinsight.com

Berita Lainnya

3 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ikan Raja Laut, Dinyatakan Punah Tiba-Tiba Muncul Lagi

Coelacanth atau ikan raja laut telah dinyatakan punah sejak 66 juta tahun lalu. Namun ternyata,  pada tahun 1997 lalu, ikan ini tiba-tiba ditemukan lagi di laut. Dunia heboh dan gempar.

Selain di Indonesia, spesies laut dari zaman purba ini juga ditemukan secara ajaib di perairan Benua Afrika, tepatnya perairan Afrika Selatan yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.

Coelacanth Sulawesi atau bernama Latin Latimeria Menadoensis, ditemukan pertama kali di perairan Manado, Sulawesi Utara. Penemuan itu menggemparkan dunia, karena fisiknya sangat mirip dengan nenek moyangnya dari periode Cretaceous.

Morfologi ikan tersebut memang sangat unik, berbeda dari kebanyakan ikan moderen yang saat ini ada. Di Indonesia, warnanya cenderung cokelat keemasan, berbeda dengan saudara tuanya di Afrika, Latimeria chalumnae yang tubuhnya didominasi biru keabu-abuan.
Keduanya adalah ikan bersirip lobus (sarcopterygians) ukuran besar yang biasa menghuni gua-gua laut di kedalaman sekitar 150-200 meter.

Ukurannya terbilang besar, karena bisa mencapai panjang dua meter dengan berat sekitar 100 kilogram.

Jarak usia penemuan keduanya juga sangat jauh, karena terpisah 59 tahun. Ikan spesies Afrika pertama kali ditemukan pada 1938 di atas kapal pukat ikan lokal, milik seorang kurator museum.
Selain bersirip lobus, keunikan Coelacanth adalahnmereka kerabat terdekat tetrapoda dan memiliki beberapa ciri morfologi-anatomi yang tidak ditemukan pada vertebrata yang lebih jauh kekerabatannya, seperti ikan bersirip jari.

Sebelum ditemukan, Coelacanth memiliki dua spesies dalam, yaitu genus Latimeria yang bertahan hingga kini serta Mawsoniidae yang sudah punah puluhan juta tahun lalu.

Meski demikian, dibandingkan dengan saudara tuanya dari Kepulauan Komoro di lepas pantai timur Afrika, ikan raja laut di perairan lepas Sulawesi dinilai masih sangat sulit dikenali karena jarangnya manusia mendokumentasikan.

Kesulitan itu terjadi, karena raja laut lebih menyukai habitat terumbu karang dalam, dan itu masih sulit dijangkau manusia untuk melakukan pengamatan langsung. Kalaupun bisa, harus menggunakan teknologi seperti kapal selam atau kendaraan yang dioperasikan jarak jauh (ROV). (*)

29 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Mengapa Banyak Bajak Laut di Somalia?

Baru-baru ini, makin sering terdengar aksi perompak atau bajak laut di Perairan Somalia, Afrika. Itu bukan kabar baru sebenarnya. Sebab, sejak puluhan tahun lalu, pembajakan kapal di /Somalia sudah sering terjadi. Kenapa bajak laut banyak ditemukan di Somalia? Berikut sejarah bajak laut Somalia.

Negara Somalia mempunyao pantai terpanjang di Afrika. Namun sayangnya, para nelayan Somalia kurang gigih dan kerjakeras dalam memanfaatkan potensi perikanan laut di wilayahnya. Potensi maritim di Somalia dibiarkan mangkrak tanpa ada usaha melainkan eksplorasi atau eksploitasi. akibatnya, sektor penangkapan ikan di Somalia tergolong kecil dan kurang berkembang. Nelayan hidup miskin.

Efek lanjutannya adalah, nelayan dan pengusaha asing diberi izin untuk melakukan eksplorasi ikan di perairan Somalia. Hasilnya melimpah. Akhirnya, warga lokal hanya me jadi penonton di tengah pesta hasil laut oleh warga asing. Kapal-kapal asing 'menggantikan' peran nelayan lokal di perairan Somalia hingga 70 tahun lamanya.

Di tengah kesenjangan itu, sebagian nelayan Somalia mulai berpikir untuk 'minta jatah' dari kapal-kapal asing yang bertebaran di laut mereka. Apalagi, akibat ulah kapal-kapal asing itu, terjadi kerusakan ekosistem di laut Somalia yang membuat nelayan kesulitan mencari ikan.

Keadaan nelayan dan sejumlah masyarakat yang bermasalah, mendorong orang-orang Somalia untuk mencoba cara baru dalam menghasilkan uang dengan cara cepat.

Para nelayan kemudian menggandeng milisi dan pemuda pengangguran untuk diajak jadi perompak.

Mereka pun mulai merealisasikan ide untuk membajak kapal asinh dan meminta uang tebusan. Hal itulah yang menjadi awal dari pembajakan di Somalia.

Melansir Marine Insight, sejak tahun 1990an, pembajakan di wilayah Somalia terus mengalami peningkatan. Hal itu dipicu oleh lemahnya pengawasan pemerintah, ketidakstabilan politik, kurangnya lapangan pekerjaan, kecilnya layanan pendidikan dan kesehatan yang mendorong masyarakat untuk melakukan tindak kriminal. (*)

27 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

KRI Canopus-936, Kapal Baru Canggih Milik TNI AL

TNI Angkatan Laut (AL) akan segera memiliki kapal baru yang canggih. Namanya KRI Canopus-936, sebuah kapal survei canggih terbaru yang akan dioperasikan oleh Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL. Kapal ini diharapkan meningkatkan kapasitas survei hidro-oseanografi nasional karena memiliki teknologi yang lebih modern

Kapal yang dibuat melalui kerja sama PT Palindo Marine dan Abeking & Rasmussen ini dilaporkan sedang berlayar menuju Indonesia dari pabriknya di Jerman. Sebelum berlabuh di Indonesia, kapal ini transit dahulu di Port Louis, Mauritius, Madagaskar. Pelayaran ini menjadi bagian dari proses pengiriman kapal setelah menyelesaikan pembangunan dan pengujian di galangan Abeking & Rasmussen, Lemwerder.

Menurut Danpushidrosal Laksamana Madya TNI Budi Purwanto, dalam siaran persnya, pengoperasian kapal survei modern ini mampu memberikan dukungan penyediaan data dan peta laut untuk keselamatan navigasi pelayaran, operasi TNI Angkatan Laut, serta pengelolaan wilayah perairan Indonesia. KRI Canopus-936 juga disebut sebagai bagian dari upaya modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Al di bidang survei dan pemetaan laut.

Kapal ini akan menunjang kepentingan pertahanan, keamanan, dan kedaulatan maritim.

"Indonesia membutuhkan sarana survei laut berdaya jelajah samudra yang mampu beroperasi secara mandiri, berkelanjutan, dan presisi tinggi," ucapnya. KRI Canopus-936 dirancang tidak hanya sebagai kapal survei ilmiah, tetapi juga sebagai platform pendukung operasi militer nontempur dan pengawasan maritim. Pembangunan KRI Canopus-936 dilaksanakan selama 36 bulan oleh galangan Palindo Marine, bekerja sama dengan galangan Abeking & Rasmussen dari Jerman sebagai mitra teknologi. (*)

26 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Merintis Proyek Energi Masa Depan RI dari Laut Dalam

Eksplorasi dan eksploitasi tambang mineral dari darat di Indonesia sudah semakin menipis. Untuk itu, peneliti mengusulkan pemerintah untuk mulai melirik proyek tambang di laut dalam. Sebab, ada temuan sejumlah titik di laut dalam yang memiliki potensi mineral tambang yang sangat besar.

Ketiga lokasi tambang mineral di laut dalam Indonesia ditemukan mulai dari Kawio Barat di kawasan Sangihe, Komba Ridge di Flores, hingga perairan Jailolo di Halmahera Barat dan Cekungan belakang Busur Banda. Di sejumlah titik itu terdapat deposit nodul polimetalik, sulfida masif dasar laut, serta kerak feromangan kaya kobalt. Tiga jenis deposit utama tersebut merupakan 'harta karun' yang menjadi incaran global.

Menurut peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Noor Cahyo Dwi Aryanto, temuan deposit harta karun itu berpotensi menjadi kunci masa depan energi Indonesia di masa mendatang. Dikatakan Cahyo Dwi, keterbatasan sumber daya tambang di darat serta meningkatnya kebutuhan mineral untuk teknologi energi mendorong eksplorasi ke laut dalam.

"Era energi fosil telah mencapai batas, dan kini dunia bergerak menuju energi alternatif berbasis mineral," kata Cahyo, Minggu (26/4/2026).

Dijelaskan Cahyo, salah satu temuan penting berasal dari kawasan Komba dan Banda, di mana peneliti menemukan anomali suhu air laut yang justru meningkat seiring bertambahnya kedalaman. Fenomena ini mengindikasikan adanya sistem hidrotermal aktif yang membawa kandungan logam bernilai tinggi.
Mineral yang teridentifikasi dalam sistem tersebut antara lain tembaga, seng, perak hingga emas, komoditas yang sangat dibutuhkan untuk mendukung teknologi energi masa depan, termasuk baterai dan infrastruktur energi bersih.

Meski potensinya besar, eksplorasi laut dalam tidak mudah dilakukan. Cahyo menjelaskan, kegiatan ini memerlukan teknologi canggih seperti Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Autonomous Underwater Vehicle (AUV) untuk menjangkau kedalaman ribuan meter.
Selain itu, aspek regulasi juga menjadi tantangan tersendiri, terutama untuk wilayah laut lepas yang berada di bawah kewenangan International Seabed Authority.

Sebagai langkah strategis, Indonesia telah menyusun peta jalan eksplorasi mineral laut dalam hingga 2030. Upaya ini melibatkan kolaborasi lintas lembaga serta penguatan kapasitas riset nasional, termasuk rencana pengadaan kapal riset baru.(*)