Berita
17 Mar 2026
Penulis : Folber Siallagan
Selat Hormuz Jadi Buah Bibir, Seperti Apa Pentingnya?
Sejak pecah perang Iran Vs AS-Israel, nama Selat Hormuz menjadi buah bibir dunia. Jalur laut ini adalah pintu sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, sekaligus menjadi jalur keluar utama bagi minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar internasional. Karena perannya itulah, setiap gangguan di Selat Hormuz hampir selalu langsung memicu kekhawatiran di pasar energi, pasar keuangan, dan ekonomi global, terutama saat harga minyak dunia mulai bergerak tajam.
Selat ini berada di antara Iran di sisi utara dan Oman di sisi selatan, serta menjadi satu-satunya jalur laut yang menghubungkan kawasan Teluk Persia yang kaya minyak dengan laut lepas.
Dalam praktiknya, kapal-kapal tanker yang membawa minyak dan LNG dari negara-negara Teluk harus melewati titik ini sebelum menuju Asia, Eropa, atau pasar lain.
Karena letaknya sangat sempit dan padat, Selat Hormuz bukan sekadar perairan transit biasa. Ia adalah bottleneck. Artinya, jika ada gangguan di titik ini, efeknya bisa menjalar cepat ke wilayah lain karena alternatif penggantinya terbatas.
Data EIA menunjukkan bahwa pada 2023 aliran minyak melalui Selat Hormuz rata-rata mencapai 20,9 juta barel per hari, setara dengan sekitar 20 persen konsumsi petroleum liquids global. EIA juga mencatat bahwa pada 2024 dan kuartal pertama 2025, aliran melalui selat ini menyumbang lebih dari seperempat perdagangan minyak laut global dan sekitar seperlima konsumsi minyak serta produk minyak dunia.
Angka itu menjelaskan mengapa pasar sangat sensitif terhadap setiap eskalasi di kawasan ini. Selat Hormuz bukan hanya penting bagi produsen minyak, tetapi juga bagi negara-negara konsumen yang bergantung pada pasokan energi stabil. IEA menyebut sekitar 20 juta barel minyak per hari melintas di selat ini, setara dengan sekitar 25 persen perdagangan minyak laut global, dan sekitar 80 persen dari volume itu menuju pasar Asia.
Dengan kata lain, gangguan di Selat Hormuz bukan isu regional semata, melainkan risiko global yang dampaknya bisa langsung terasa di pusat-pusat ekonomi besar.
Jadi, kenapa Selat Hormuz selalu dibicarakan saat konflik naik? Jawabannya sederhana: terlalu banyak energi global bergantung pada satu jalur sempit ini, dan dampaknya bisa cepat menjalar ke inflasi serta biaya hidup. (*)
Berita Lainnya