Berita
12 Feb 2023
Penulis : Folber Siallagan
Nyale, Kuliner Cacing Laut Lombok yang Dihidangkan Setahun Sekali
Setahun sekali, masyarakat Pulau Lombok, Nusa Tenggara Timur merayakan Festival Bau Nyale. Kebetulan tahun ini dirayakan pada bulan Februari. Sesuai namanya, festival ini diisi kuliner khas yaitu hidangan cacing laut dengan berbagai varian masakan.
"Saat waktu Festival sudah ditentukan, masyarakat Lombok akan berbondong-bondong memburu Nyale di sejumlah pantai, salah satunya Pantai Seger Kuta," kata peneliti budaya Universitas Pendidikan Mandalika Lalu Ari Irawan. Nyale adalah bahasa lokal untuk hewan sejenis cacing laut.
Hidangan laut itu bisa diolah menjadi berbagai santapan. Warga lokal biasa menyajikan nyale dalam bentuk pepes, goreng, atau menjadi hidangan berkuah santan. Tidak itu saja, bahkan banyak di antara warga Lombok yang suka menyantap nyale mentah.
Rasa nyale cukup unik, aromanya serupa dengan makanan laut pada umumnya. Tekstur nyale yang telah dimasak mirip pula seperti hati ayam, dibalut dengan bumbu rempah khas Lombok yang pedas dan lezat.
Bagaimana warga begitu antusias makan Nyale di momen Festival Bau Nyale?
Dalam bahasa Sasak, Lombok, bau artinya menangkap dan nyale adalah cacing laut. Bau nyale adalah aktivitas masyarakat untuk menangkap cacing laut yang dilakukan setiap tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan tradisional Sasak (pranata mangsa) atau tepat 5 hari setelah bulan purnama. Umumnya, antara bulan Februari dan Maret setiap tahunnya.
Konon ceritanya, zaman dahulu kala hiduplah Putri Mandalika nan cantik rupawan, anak pasangan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting dari Kerajaan Tonjang Beru di Pulau Lombok. Banyak sekali pangeran dari berbagai kerajaan lain ingin meminang Putri Mandalika. Mulai dari pangeran dari Kerajaan Johor, Kerajan Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan hingga Kerajaan Beru.
Yang menjadi keresahan Putri Mandalika adalah ada potensi perang antarkerajaan jika dia memilih salah satu dari pangeran itu. Sebab, pangeran yang tidak dia pilih bisa marah dan menyerang Kerajaan dan rakyatnya.
Tak ingin terjadi kekacauan di kemudian hari, Putri Mandalika pun menolak semua pinangan itu dan memilih mengasingkan diri. Namun, desakan harus memilih salah satu pangeran membuat Putri Mandalika memutuskan mengundang seluruh pangeran beserta rakyat di Pantai Kuta, Lombok pada tanggal 20 bulan 10, tepatnya sebelum Subuh. Seluruh undangan berduyun-duyun menuju lokasi
Putri Mandalika lalu muncul di lokasi, disaksikan seluruh pangeran dan rakyat, Putri Mandalika terjun ke dalam air laut dan menghilang tanpa jejak. Seluruh undangan sibuk mencari, namun mereka hanya menemukan kumpulan cacing laut yang kemudian mereka percayai sebagai jelmaan Putri Mandalika. Sejak itu, setiap tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan tradisional Sasak masyarakat mendatangi pantai dan memburu cacing tersebut untuk dikonsumsi sebagai bentuk penghargaan untuk pengorbanan sang putri. (*)
Berita Lainnya