Berita
24 Jun 2025
Penulis : Folber Siallagan
Mengunjungi Situs Warisan Dunia Gunung Api Purba Bawah Laut Meratus
Geopark Pegunungan Meratus berada di Aranio, Banjar, Kalimantan Selatan. Keindahan dan keunikan kawasan tersebut diakui oleh UNESCO untuk ditetapkan sebagai geopark yang harus dilindungi keasliananya. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di salah satu sisi geopark tersebut yang berupa bukit bebatuan ternyata adalah sebuah gunung api purba bawah laut.
Pemandangan bukit dan tebing batu itu terlihat menjulang kokoh jika diamati dari sepanjang sungai yang mengalir di sisinya.
Bebatuan hitam yang timbul ke permukaan itu bukan batu seperti pada umumnya, tapi sebuah situs Geopark Pegunungan Meratus nomor 31, yakni Gunung Api Purba Bawah Laut.
Geopark Pegunungan Meratus sebenarnya sudah ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada 2018. Geopark ini memiliki luas sekitar 3,645.01 km2 dengan 54 situs yang tersebar pada empat penjurunya.
Gunung Api Purba Bawah Laut menjadi situs ke-31 Geopark Pegunungan Meratus yang dijaga dan dilestarikan sebagai warisan bumi yang sangat berharga.
Gunung Api Purba Bawah Laut, tidak seperti gunung berapi di Pulau Jawa yang menjulang tinggi, namun hanya berbentuk bukit yang ada hamparan batuan cukup luas sebagai sisinya.
Ahli Geologi Badan Pengelola Geopark Pegunungan Meratus, Ali Mustofa menjelaskan, batuan muncul itu tidak terlepas dari fenomena terbentuknya Pegunungan Meratus.
Fenomena terbentuknya Pegunungan Meratus akibat adanya benturan kerak bumi di bawah samudera yang disebut ophiolite, dan terangkat ke permukaan sejak 200-150 juta tahun lalu.
Akibat benturan kerak bumi itu menimbulkan vulkanik atau magma panas.
"Akhirnya membeku menjadi bebatuan dengan proses alam yang sangat lama hingga muncul ke permukaan," kata Mustofa.
Tanah subur
Batuan dari Gunung Api Purba Bawah Laut ternyata membuat tanah di sekitarnya menjadi subur.
Masyarakat Desa Tiwingan Baru bahkan banyak yang berkebun di perbukitan yang penuh batuan tersebut, baik bertanam jenis sayuran maupun buah-buahan.
Kepala Desa Tiwingan Baru Rudiansyah menyampaikan bahwa di wilayahnya yang ditetapkan situs Gunung Api Purba Bawah Laut merupakan tanah subur, meskipun banyak gundukan batu.
Di wilayah Desa Tiwingan Baru banyak perkebunan buah seperti durian, mangga, cempedak dan lainnya. Bahkan pohonnya tumbuh besar meskipun di sela-sela batuan.
Rumah-rumah warga yang rata-rata rumah panggung juga banyak di sekitar batuan besar, seakan tidak bisa di geser.
"Batuan itu jika kita pukul dengan gada atau palu, hanya pecah kulitnya saja, tidak bisa terbelah, keras seperti batu besi saja," ujar Rudiansyah.
Dengan adanya batuan itu menambah keunikan desanya yang juga memiliki objek wisata, yakni Pulau Pinus dan Bukit Batas.
Dia pun berharap, dengan adanya penetapan situs Geopark Pegunungan Meratus di desanya berdampak besar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. (*)
Berita Lainnya