Berita

11 Des 2022

Penulis : Folber Siallagan

Mengenal Suku-Suku Penjelajah Laut di Indonesia

Lagu yang sering kita dengar semasa kecil berjudul “Nenek moyangku seorang pelaut” bukan sekadar isapan jempol  belaka.
 Sebab, banyak suku di Indonesia memang suka dan ahli menjelajahi laut. Berikut adalah sejumlah suku penjelajah samudra dari Indonesia.

1. Suku Bugis
Suku Bugis berasal dari Sulawesi. Salah satu hal yang khas dari suku ini adalah kapal phinisi. Dengan kapal phinisi, orang Bugis banyak sekali melakukan hubungan dagang dengan banyak bangsa di seluruh dunia. Kehebatan Suku Bugis dalam hal kemaritiman bisa terlihat dari beberapa bukti sejarah seperti La Galigo, yaitu karya sastra klasik paling tebal di dunia. Buku ini berisi kisah orang Bugis di masa lalu lengkap dengan sejarah, kebudayaan, hingga dongeng-dongeng.

2. Suku Mandar
Mandar adalah salah satu suku di nusantara yang kebudayaannya berorientasi ke lautan. Suku Mandar tinggal di sebuah kawasan yang membentang dari tepi selat Makassar di Barat sampai Pegunungan Quarles di Timur. Garis pantainya tidak kurang dari 590 Kilometer. 

Jika saudaranya Suku Bugis unggul di bidang perdagangan dengan memanfaatkan laut, maka Suku Mandar lebih dikenal sebagai pelaut ulang. Suku Mandar unggul sebagai pelaut bukan dari alat-alat yang canggih dan kapal-kapal besar yang kokoh. Keunggulan mereka justru terletak pada dua teknologi perikanan lokal yang mereka kembangkan sendiri. 
Yang pertama adalah rumpon. Hingga kini, alat yang mulanya dikembangkan oleh masyarakat pesisir teluk Mandar ini lazim digunakan di banyak negara. Yang kedua adalah perahu sandeq. Perahu jenis ini punya ciri khas bercadik tradisional dan dikenal sangat cepat.


3. Suku Bawean
Suku Bawean dari Jawa Timur juga menjadi salah satu suku yang suka melancong menggunakan kapal tradisional. Di masa lalu, mereka sering melakukan perantauan ke negeri orang, seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, hingga Australia. Hobi melancong dari Suku Bawean ini membuat mereka bisa tinggal dan menetap di berbagai negara. Hal ini terutama dilakukan oleh kaum lelaki, hingga kahirnya penghuni Pulau Bawean sendiri lebih banyak perempuan.

4. Suku Bajo
Suku Bajo atau Bajau adalah suku bangsa yang unik karena  selama hidupnya tinggal di atas perahu. Mereka hanya berada di daratan untuk berdagang atau membeli barang kebutuhan rumah tangga. Aktivitas seperti bekerja dan interaksi sosial dilakukan di atas perayu yang selalu berpindah dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Biasanya perpindahan ini bergantung pada musim.

Ternyata suku ini disebut-sebut berasal dari kawasan Filipina. Namun selama puluhan tahun mereka telah melakukan perjalanan jauh hingga akhirnya terjadi asimiliasi budaya dengan penduduk lokal di Indonesia. Suku Bajo bisa ditemukan di kawasan seperti Berau, Bontang, dan Selayar.

5. Suku Laut
Suku laut (Sea Nomads) atau Suku Sampan merupakan salah satu komunitas pribumi yang mendiami wilayah perairan Kepulauan Riau. Berdasarkan jumlah pendataan Departemen Sosial (Depsos) RI 1988, sekitar 11,23 persen terkonsentrasi berada di wilayah perairan Batam, berada di sekitar Selat Malaka, Selat Philip, dan Laut China Selatan.

Disebut sebagai suku laut karena keberadaannya yang hidup nomaden dengan melakukan seluruh aktifitas kegiatan hidup tinggal di sebuah perahu atau sampan yang beratapkan sebuah Kajang. Dahulunya, mereka hanya hidup di laut, berpindah dari pulau ke pulau hingga muara sungai.

Kehidupan Orang Laut--sebutan anggota suku laut--terbilang sangat sederhana. Mereka yang bermukim di atas sampan hanya ditutupi kajang sebagai pelindung dari terik panas dan hujan. Untuk menafkahi hidup, mereka mencari ikan dengan peralatan sederhana, seperti tempuling, tombak, dan serampang.

Melansir situs resmi Disbud Kepri, suku laut mulai menghuni wilayah Melayu-Lingga pada tahun 2500-1500 sebelum masehi sebagai bangsa Proto Melayu atau Melayu Tua. Mereka menyebar ke sebagian besar wilayah Sumatra melalui Semenanjung Malaka.

6. Suku Biak
Suku Biak berasal dari Pulau Biak, Papua. Suku ini kerap mendapatkan julukan sebagai Viking rasa Indonesia. Di masa lalu, saat bangsa Eropa belum masuk ke Indonesia, orang di Pulau Biak banyak melakukan pelayaran di berbagai daerah di Nusantara. Bahkan mereka sempat mampir ke Pulau Jawa yang saat itu masih dikuasai banyak kerajaan besar.

Suku Biak melakukan perdagangan antar pulau, terutama di kawasan Sulawesi dan Maluku. Suku Biak melakukan banyak persahabatan dengan kapal-kapal dari negeri Asing untuk perdagangan dan barter. (*)

Berita Lainnya

3 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pakar Khawatir Gempa akan Picu Tsunamj

Pakar geologi, Daryono menjelaskan, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang menghantam wilayah laut Bitung, Sulawesi Utara pada Kamis (2/4) pagi dikategorikan sebagai gempa megathrust oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Daryono mengatakan, gempa-gempa dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) di wilayah Laut Maluku merupakan konsekuensi langsung dari dinamika tektonik kompleks pada zona konvergensi ganda (double subduction system) yang unik di kawasan itu. 

Daryono menyebut laut Maluku diapit oleh dua busur subduksi aktif, yaitu Lempeng Laut Maluku yang tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe, serta ke arah timur di bawah Busur Halmahera. "Kondisi ini menyebabkan akumulasi tegangan kompresi yang sangat intens pada kerak bumi," kata Daryono kepada wartawan, Jumat (3/4/2026). 

Dalam kerangka mekanika batuan dan tektonik lempeng, Daryono menerangkan mekanisme sesar naik terjadi akibat gaya kompresi horizontal yang mendorong satu blok batuan bergerak naik relatif terhadap blok lainnya. 

Di Laut Maluku, Daryono menyebut sumber gempa thrust umumnya berasosiasi dengan bidang kontak antarlempeng (megathrust) maupun deformasi internal pada slab yang tersubduksi. "Hal ini menjelaskan mengapa gempa-gempa di wilayah ini sering memiliki kedalaman menengah hingga dalam, namun tetap menunjukkan solusi mekanisme fokus berupa sesar naik," ujar Daryono. 
Secara geofisika, Daryono menyatakan karakteristik ini konsisten dengan hasil analisis momen sensor yang menunjukkan dominasi komponen kompresional (P-axis) hampir horizontal, serta bidang nodal yang mencerminkan geometri penunjaman lempeng. 

Selain itu, adanya interaksi kompleks antara dua sistem subduksi yang saling berhadapan (arc-arc collision) memperkuat intensitas deformasi."Sehingga meningkatkan frekuensi kejadian gempa dengan mekanisme sesar naik," ujar Daryono. 

Dari perspektif kebencanaan, Daryono mengamati gempa thrust di Laut Maluku memiliki signifikansi tinggi karena berpotensi menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal. Hal ini dapat memicu tsunami, terutama jika terjadi pada kedalaman dangkal dan melibatkan pergeseran besar di bidang patahan. 
"Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif terhadap mekanisme ini menjadi krusial dalam upaya mitigasi risiko bencana di kawasan Indonesia timur,"ujar Daryono. (*) 

2 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ketapang-Gilimanuk Overload, Pemerintah Diminta Bangun Pelabuhan Baru

Penyebrangan dari dan ke Pulau Bali melalui akses Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk dianggap sudah overload. Selain menimbulkan kemacetan kuar biasa di kedua pelabuhan, hal ini juga rawan kecelakaan. Untuk itu, DPR meminta pemerintah memikirkan pembangunan pelabuhan baru sebagai alternatif penyebrangan dari dan ke Pulau Bali.

Menurut anggota DPR RI Iman Sukri, kondisi penyebrangan Ketapang-Gilimanuk sudah harus dikurangi atau dialihkan volume kapal dan penumpangnya. Sebab, sejauh ini, penyebrangan Ketapang-Gilimanuk merupakan satu-satunya akses lalu lintas laut Pulau Jawa-Pulau Bali.

"Saya kira sudah waktunya pemerintah serius membangun alternatif pelabuhan lain dari dan atau menuju Bali. Tidak bisa terus bergantung pada Ketapang-Gilimanuk saja," ujar Iman dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut, Iman mengatakan pembangunan akses laut baru menuju Bali diperlukan karena beban lalu lintas yang terus meningkat tidak sebanding dengan kapasitas infrastruktur yang tersedia saat ini.

Iman menyampaikan pernyataan itu untuk menanggapi kondisi berulang atas kemacetan yang terjadi menuju dua pelabuhan yang merupakan jalur penyeberangan Jawa-Bali tersebut.

Sementara itu, dia mengusulkan berbagai opsi pembukaan akses baru yang dinilai lebih representatif dan berkelanjutan.
Misalnya, kata dia, membuka jalur menuju Bali Utara, baik melalui kawasan Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) maupun dengan memperkuat peran Pelabuhan Jangkar, Situbondo, Jatim sebagai simpul penyeberangan alternatif.

"Pengembangan akses menuju Bali Utara bisa menjadi solusi untuk memecah konsentrasi arus kendaraan. Ini penting agar tidak terjadi penumpukan ekstrem di satu titik seperti yang kita lihat hari ini," jelasnya.

Walaupun demikian, dia mengingatkan agar upaya pembangunan akses laut baru tersebut tetap memperhatikan kearifan lokal masyarakat Bali, khususnya terkait penolakan terhadap pembangunan jembatan penghubung Jawa-Bali.
Ia pun mengharapkan pemerintah pusat segera melakukan kajian komprehensif dan menindaklanjuti dengan langkah konkret agar konektivitas Jawa-Bali menjadi lebih andal, aman, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan. (*)

30 Mar 2026

Penulis : Folber Siallagan

Laut Mediterania, Kenapa Dijuluki Kuburan Terbesar di Eropa?

Laut Mediterania terletak di antara tiga benua: Eropa, Afrika, dan Asia. Secara geografis, laut ini dikelilingi oleh daratan di tiga sisinya dan hanya terhubung dengan Samudra Atlantik melalui Selurrah Gibraltar di barat. Meski menghubungkan tiga benua, Laut Mediterania lebih akrab dengan julukan 'kuburan terbesar di Eropa'. Bagaimana ceritanya?

Diketahui bahwa laut inienghubungkan daratan Eropa dengan benua Afrika dan Asia. Banyak orang dari Asia dan Afrika, yang secara ekonomi kekurangan, bermimpi tinggal dan bekerja di Eropa. Namun, persyaratan untuk bisa tinggal dan bekerja di Eropa tidak bisa mereka penuhi karena berbagai faktor. Akhirnya, jalan pintas yang mereka pilih adalah dengan masuk ke Eropa secara ilegal atau menyelundupkan.

Nah, Laut Mediterania adalah satu-satunya jalan masuk ke Eropa meski risiko dan bahaya yang cukup tinggi. Belum lama ini, Al Jazeera melaporkan bahwa sedikitnya 22 migran tewas di Laut Mediterania tepatnya di lepas pantai Yunani setelah enam hari di laut dengan perahu karet. Mereka berencana akan ke Eropa secara ilegal.

Peristiwa itu merupakan fenomena rutin yang terjadi di Laut Mediterania. Setiap tahun, ribuan orang mencoba menyeberangi Laut Mediterania dengan cara yang berbahaya dari Libya ke Eropa. Dan tidak jarang berakhir tragis di tengah laut.

Mendiang Paus Fransiskus menyebut Laut Mediterania, jalur yang paling sering digunakan oleh migran ilegal untuk menyeberang ke Eropa dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik. Tidak heran laut itu disebut sebagai "kuburan terbesar di Eropa."

Menurut Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), lebih dari 16.770 orang pencari suaka di Eropa tiba di Kreta pada tahun 2025. Setidaknya 107 orang tewas atau hilang di perairan Yunani selama periode yang sama.

Pada tanggal 9 Februari 2026, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan sekitar 53 migran, termasuk dua bayi, tewas atau hilang setelah sebuah perahu karet yang membawa 55 orang terbalik di Laut Mediterania, tepatnya di lepas pantai kota Zuwara di Libya.

Pada bulan Januari 2026, IOM mengatakan setidaknya 375 migran dilaporkan tewas atau hilang karena cuaca ekstrem, dengan ratusan kematian lainnya diyakini tidak tercatat.

Menurut laporan IOM, dengan 3.771 kematian, tahun 2015 merupakan tahun paling mematikan yang pernah tercatat bagi para migran dan pengungsi yang menyeberangi Laut Mediterania untuk mencapai Eropa. Sebagai perbandingan, 3.279 kematian tercatat di Laut

Menurut data PBB, lebih dari 670 migran telah meninggal di Mediterania tengah tahun 2021. Namun, investigasi lain mencatat bahwa angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi karena adanya penolakan dari beberapa negara di blok tersebut.

Tingginya angka kematian di Laut Mediterania itulah yang mendasari hukuman sebagai 'kuburan terbesar di Eropa'. (*)