Berita

19 Mar 2025

Penulis : Folber Siallagan

Ketika Dunia Heboh dengan Proyek Kapal Induk Raksasa China

Sejumlah media massa di AS dan Eropa heboh memberitakan proyek prestisius China yang akan membangun kapal induk raksasa bertenaga nuklir. Kapal ini diproyeksikan bisa meluncurkan empat jet tempur dalam sekali 'lontaran'. Jika rencana ini benar, kapal ini bisa jadi kapal induk raksasa terbesar di dunia.

Menurut laporan NBC News dari AS, China tengah membangun kapal induk raksasa setelah melihat citra satelit pada fasilitas pembuatan kapal Dalian yang dirilis Maxar Technologies.
Lima analis mengatakan berdasarkan citra satelit tersebut, China kemungkinan sedang mengembangkan kapal induk baru yang mampu meluncurkan jet tempur dari empat katapel pesawat.
Peneliti dari James Martin Center for Nonproliferation Studies, Michael Duitsman, mengatakan empat katapel itu memungkinkan China untuk meluncurkan banyak pesawat seperti kapal induk AS USS Gerald R. Ford.
Kapal induk itu pun diyakini bertenaga nuklir dan sangat besar, bahkan melebihi Fujian, agar dapat mengakomodasi empat katapel tersebut.

China saat ini mengoperasikan tiga kapal induk, yakni Liaoning, Shandong, dan Fujian. Kapal induk Fujian adalah yang pertama memiliki katapel pesawat yang mampu menopang beban hingga 80 ribu ton.
Lantas bagaimana tanggapan China atas laporan tersebut?
Juru bicara Kementerian Pertahanan China, Zhang Xiaogang, mengatakan laporan itu hanya "spekulasi".
Kendati begitu, katq Zhang, pembangunan kapal induk China memang diperlukan demi kepentingan nasional Negeri Tirai Bambu serta untuk mengikuti perkembangan teknologi.
Pakar urusan militer China, Song Zhongping, mengatakan bahwa apa yang terlihat di citra satelit tak bisa secara tepat menunjukkan apa yang ada di lapangan. Dia pun menegaskan analisis berdasarkan citra satelit semacam itu memiliki batasan dan hanya berisi spekulasi semata.
Menurut Zhang Junshe, China memang menguasai teknologi pembangunan kapal induk dan berpengalaman dalam hal itu. Menurutnya, dari proses proses perancangan, pembangunan, hingga uji coba, China telah sukses mengembangkan kapal-kapal induk dan mencapai terobosan dalam beberapa tahun.
Kendati demikian, teknologi untuk mengembangkan kapal induk bertenaga nuklir berbeda dengan yang ada pada kapal induk konvensional maupun kapal selam bertenaga nuklir. Pembangunan itu membutuhkan proses jangka panjang nan rumit. (*)

Berita Lainnya

2 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ketapang-Gilimanuk Overload, Pemerintah Diminta Bangun Pelabuhan Baru

Penyebrangan dari dan ke Pulau Bali melalui akses Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk dianggap sudah overload. Selain menimbulkan kemacetan kuar biasa di kedua pelabuhan, hal ini juga rawan kecelakaan. Untuk itu, DPR meminta pemerintah memikirkan pembangunan pelabuhan baru sebagai alternatif penyebrangan dari dan ke Pulau Bali.

Menurut anggota DPR RI Iman Sukri, kondisi penyebrangan Ketapang-Gilimanuk sudah harus dikurangi atau dialihkan volume kapal dan penumpangnya. Sebab, sejauh ini, penyebrangan Ketapang-Gilimanuk merupakan satu-satunya akses lalu lintas laut Pulau Jawa-Pulau Bali.

"Saya kira sudah waktunya pemerintah serius membangun alternatif pelabuhan lain dari dan atau menuju Bali. Tidak bisa terus bergantung pada Ketapang-Gilimanuk saja," ujar Iman dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut, Iman mengatakan pembangunan akses laut baru menuju Bali diperlukan karena beban lalu lintas yang terus meningkat tidak sebanding dengan kapasitas infrastruktur yang tersedia saat ini.

Iman menyampaikan pernyataan itu untuk menanggapi kondisi berulang atas kemacetan yang terjadi menuju dua pelabuhan yang merupakan jalur penyeberangan Jawa-Bali tersebut.

Sementara itu, dia mengusulkan berbagai opsi pembukaan akses baru yang dinilai lebih representatif dan berkelanjutan.
Misalnya, kata dia, membuka jalur menuju Bali Utara, baik melalui kawasan Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) maupun dengan memperkuat peran Pelabuhan Jangkar, Situbondo, Jatim sebagai simpul penyeberangan alternatif.

"Pengembangan akses menuju Bali Utara bisa menjadi solusi untuk memecah konsentrasi arus kendaraan. Ini penting agar tidak terjadi penumpukan ekstrem di satu titik seperti yang kita lihat hari ini," jelasnya.

Walaupun demikian, dia mengingatkan agar upaya pembangunan akses laut baru tersebut tetap memperhatikan kearifan lokal masyarakat Bali, khususnya terkait penolakan terhadap pembangunan jembatan penghubung Jawa-Bali.
Ia pun mengharapkan pemerintah pusat segera melakukan kajian komprehensif dan menindaklanjuti dengan langkah konkret agar konektivitas Jawa-Bali menjadi lebih andal, aman, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan. (*)

30 Mar 2026

Penulis : Folber Siallagan

Laut Mediterania, Kenapa Dijuluki Kuburan Terbesar di Eropa?

Laut Mediterania terletak di antara tiga benua: Eropa, Afrika, dan Asia. Secara geografis, laut ini dikelilingi oleh daratan di tiga sisinya dan hanya terhubung dengan Samudra Atlantik melalui Selurrah Gibraltar di barat. Meski menghubungkan tiga benua, Laut Mediterania lebih akrab dengan julukan 'kuburan terbesar di Eropa'. Bagaimana ceritanya?

Diketahui bahwa laut inienghubungkan daratan Eropa dengan benua Afrika dan Asia. Banyak orang dari Asia dan Afrika, yang secara ekonomi kekurangan, bermimpi tinggal dan bekerja di Eropa. Namun, persyaratan untuk bisa tinggal dan bekerja di Eropa tidak bisa mereka penuhi karena berbagai faktor. Akhirnya, jalan pintas yang mereka pilih adalah dengan masuk ke Eropa secara ilegal atau menyelundupkan.

Nah, Laut Mediterania adalah satu-satunya jalan masuk ke Eropa meski risiko dan bahaya yang cukup tinggi. Belum lama ini, Al Jazeera melaporkan bahwa sedikitnya 22 migran tewas di Laut Mediterania tepatnya di lepas pantai Yunani setelah enam hari di laut dengan perahu karet. Mereka berencana akan ke Eropa secara ilegal.

Peristiwa itu merupakan fenomena rutin yang terjadi di Laut Mediterania. Setiap tahun, ribuan orang mencoba menyeberangi Laut Mediterania dengan cara yang berbahaya dari Libya ke Eropa. Dan tidak jarang berakhir tragis di tengah laut.

Mendiang Paus Fransiskus menyebut Laut Mediterania, jalur yang paling sering digunakan oleh migran ilegal untuk menyeberang ke Eropa dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik. Tidak heran laut itu disebut sebagai "kuburan terbesar di Eropa."

Menurut Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), lebih dari 16.770 orang pencari suaka di Eropa tiba di Kreta pada tahun 2025. Setidaknya 107 orang tewas atau hilang di perairan Yunani selama periode yang sama.

Pada tanggal 9 Februari 2026, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan sekitar 53 migran, termasuk dua bayi, tewas atau hilang setelah sebuah perahu karet yang membawa 55 orang terbalik di Laut Mediterania, tepatnya di lepas pantai kota Zuwara di Libya.

Pada bulan Januari 2026, IOM mengatakan setidaknya 375 migran dilaporkan tewas atau hilang karena cuaca ekstrem, dengan ratusan kematian lainnya diyakini tidak tercatat.

Menurut laporan IOM, dengan 3.771 kematian, tahun 2015 merupakan tahun paling mematikan yang pernah tercatat bagi para migran dan pengungsi yang menyeberangi Laut Mediterania untuk mencapai Eropa. Sebagai perbandingan, 3.279 kematian tercatat di Laut

Menurut data PBB, lebih dari 670 migran telah meninggal di Mediterania tengah tahun 2021. Namun, investigasi lain mencatat bahwa angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi karena adanya penolakan dari beberapa negara di blok tersebut.

Tingginya angka kematian di Laut Mediterania itulah yang mendasari hukuman sebagai 'kuburan terbesar di Eropa'. (*)

28 Mar 2026

Penulis : Folber Siallagan

Terdampak Perang, Ribuan Kapal Minyak Tertahan di Selat Hormuz

Sekitar 1.900 kapal komersial tertahan di kawasan Selat Hormuz, terutama di Teluk Persia, sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Data itu diperoleh berdasarkan pelacak kapal real-time MarineTraffic pada periode 20 hingga 22 Maret 2026.

Di antara kapal yang tertahan terdapat sekitar 324 kapal curah, 315 kapal pengangkut minyak atau produk kimia, 267 kapal pengangkut produk minyak, dan 211 kapal tanker minyak mentah.

Diketahui, sejak awal perang terjadi, Teheran secara efektif menutup jalur perairan strategis tersebut bagi kapal-kapal yang terkait dengan negara penyerang, sehingga lalu lintas maritim di selat itu terhenti.

Kapal-kapal di kawasan yang bersiap melintasi selat tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat ketegangan militer, dengan sebagian besar kapal yang tertahan menjatuhkan jangkar di perairan terbuka.

Teheran menyatakan bahwa kapal dari negara selain AS dan Israel tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak terlibat atau mendukung agresi terhadap Iran serta mematuhi sepenuhnya aturan keselamatan dan keamanan.

Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, mengatakan bahwa pihak Iran telah mengubah aturan di selat tersebut dan situasi tidak akan kembali seperti sebelum perang, seraya menegaskan bahwa entitas yang terkait dengan AS dan Israel tidak memiliki hak untuk melintas.

Diketahui, sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk minyak berada di atas kapal tanker yang tertahan di kawasan tersebut, kata perusahaan analisis Vortexa.

Selain itu, terdapat 177 kapal kargo umum, 174 kapal kontainer, 98 kapal pengangkut gas petroleum cair, 42 kapal pengangkut aspal atau bitumen, 37 kapal angkut berat, serta 34 kapal tanker LPG atau kimia di kawasan tersebut, sementara sisanya terdiri dari berbagai jenis kapal lain seperti kapal Ro-Ro, kapal pengangkut bahan bakar, dan kapal angkut berat.

Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd melaporkan bahwa enam kapalnya tidak dapat beroperasi di Teluk Persia di tengah ketegangan yang berlangsung.
Direktur analisis maritim Baltic and International Maritime Council, Filipe Gouveia, mengatakan kepada Anadolu bahwa dampak penghentian lalu lintas maritim terhadap pasar pelayaran dan tarif angkutan akan bergantung pada berbagai faktor.

Ia menyebut perkembangan harga bahan bakar, lamanya penutupan selat, serta jumlah kapal yang diizinkan Iran untuk melintas akan menjadi faktor penentu, sementara ketegangan di kawasan turut mendorong kenaikan tarif angkutan.
Kenaikan tersebut terutama terlihat pada pasar kapal tanker, termasuk tanker minyak mentah dan produk minyak.
Ia mengatakan bahwa sejak 27 Februari, Baltic Dirty Tanker Index meningkat 49 persen dan Baltic Clean Tanker Index naik 78 persen hingga 20 Maret, dengan tarif angkutan di pasar kontainer juga mengalami lonjakan.

Kenaikan biaya bahan bakar serta pengenaan biaya tambahan darurat oleh perusahaan pelayaran turut berkontribusi terhadap peningkatan tersebut.

Ia menambahkan bahwa dalam kondisi normal sekitar 30 persen ekspor minyak global melalui jalur laut, 4 persen kargo curah kering, dan 3 persen volume kontainer melintasi Selat Hormuz. (*)