Berita

23 Jan 2024

Penulis : Folber Siallagan

Inilah Daftar 10 Mahluk Laut Terbesar

Berbagai macam legenda hewan monster di laut banyak beredar di tengah masyarakat dunia. Namanya legenda, kebenarannya susah dibuktikan. Terlepas dari legenda itu, memang ada beberapa monster laut yang secara ukuran sangat mencengangkan.
Berikut adalah daftar monster laut yang sempat berinteraksi dengan manusia.

1. Oarfish
Habitat Oarfish tersebar di sejumlah kawasan perairan di wilayah kutub hingga laut tropis. Hidup di laut dalam dengan rata-rata kedalaman 3.68 km hingga 11 km. 
Jenis makanan yang dikonsumsinya adalah zooplankton, udang, krustasea, ubur-ubur, dan cumi.
Ciri khas ikan ini memiliki bentuk yang aneh menyerupai ular laut atau naga. Ikan ini tidak memiliki sisi dan terkenal dengan matanya yang besar. Ukuran Oarfish yang pernah ditemukan mencapai 9 meter. 

2. Pari Manta
Ikan bernama latin Mobula birostris ini adalah spesies pari yang termasuk di dalam keluarga Mobulidae. Habitat ikan ini biasa ditemukan di perairan tropis dan subtropis.
Ciri khas pari ini memiliki ukuran tubuh hingga 10 meter, ukuran cakram 7 meter, berat sekitar 3.000 kg, dan hidup di kedalaman 4-5 meter.
Meski tubuhnya besar, hewan laut terbesar ini cukup berbahaya karena dapat berenang dalam kecepatan 24/km jam. 

3. Gurita Pasifik Raksasa
Hewan bernama latin enteroctopus dofleini ini adalah adalah cephalopoda laut besar yang termasuk dalam genus Enteroctopus.
Gurita ini hidup di pesisir Pasifik Utara sepanjang Meksiko, Amerika Serikat, Kanada, Rusia, Tiongkok Timur, Jepang, dan Korea. 
Hewan yang hidup hingga kedalaman 2.000 meter ini panjangnya bisa mencapai 11 meter.
Meski bertubuh raksasa, rata-rata umur hewan ini cukup pendek hingga maksimal 5 tahun. Beruntung hewan ini sekali bereproduksi mampu menghasilkan  jongha 400 ribu telur. Sehingga meski berumur pendek, populasinya masih bisa terjaga.

4. Sotong Raksasa
Sotong atau cumi-cumi raksasa ini bisa tumbuh besar mencapai 12-13 meter untuk betina dan 10 meter untuk jantan. Dia memiliki dua tentakel berukuran 9-10 meter dan mantel sepanjang 2 meter.
Biasanya hewan raksasa ini hidup di perairan Norwegia, Spanyol, Afrika Selatan, hingga di sekitar perairan Jepang.

5. Hiu Basking
The Basking Shark adalah hiu dan ikan terbesar yang hidup setelah whale shark. 
Rata-rata ukuran panjang hiu ini mencapai 7.9 meter hingga 12 meter dengan bobot mencapai 3.855 kg.
Hiu ini sering terlihat dengan mulut yang terbuka lebar saat berada di permukaan air. 
Namun Anda tidak perlu takut, sebab monster laut terbesar ini terkenal lembut dan hanya makan plankton, telur ikan, dan larva saja.

6. Hiu Paus
Hiu paus termasuk genus Rhincodon hampir bertebaran di sejumlah kawasan perairan sambil mencari plankton dan bermain dengan spesies laut lainnya.
Whale Shark dapat hidup hingga 80-130 tahun lamanya dengan panjang hingga 15 meter.
Tapi sayangnya, hiu ini masuk dalam daftar hewan yang terancam punah karena perburuan liar.

7. Paus Sperma
Paus ini masuk dalam kategori genus Pyhseter bersama dua spesies lainnya, yakni pygmy sperm whale dan dwarf sperm whale. Paus raksasa ini mampu tumbuh hingga 20 meter.
Hewan laut ini termasuk mamalia pelagis yang tersebar di seluruh dunia. 
Bahkan paus sperma ini sering bermigrasi secara musiman untuk mencari makan dan berkembang biak.
Paus sperma betina cenderung dan jantan muda cenderung hidup bersama dalam kelompok. Sedangkan jantan dewasa hidup menyendiri di luar musim kawin.
Paus sperma betina melahirkan setiap 4-20 tahun dan harus merawat anak-anaknya selama lebih dari satu dekade.
Sama seperti paus hiu, paus sperma masuk dalam daftar hewan yang terancam punah. 

8. Fin Whale (25 meter)
Fin Whale atau paus sirip mampu tumbuh panjang hingga 27,3 meter, namun rata-rata maksimum paus sirip yang ditemukan mencapai 25,9 meter dengan perkiraan berat mencapai 74 hingga 114 ton.
Pada abad ke-20, paus sirip banyak diburu oleh manusia untuk mengambil sirip yang dimilikinya. Ironisnya, lebih dari 725.000 paus sirip dilaporkan hilang dari belahan bumi antara tahun 1905 dan 1976. 

9. Paus Biru
Mamaliat laut mampu tumbuh hingga panjang maksimum berkisar 29,9 meter dengan berat hingga 199 ton.
Ciri khas paus ini memiliki warna biru keabu-abuan di bagian punggung dan berwarna sedikit lebih terang di bagian bawah.
Paus ini sering bermigrasi antar daerah untuk mencari makan di dekat kutub saat musim panas. Pada saat musim dingin, mereka akan pindah ke daerah tropis untuk berkembang biak.

10. Lion’s Mane Jellyfish
Lion’s Mane Jellyfish atau dikenal sebagai ubur-ubur raksasa adalah salah satu spesies ubur-ubur terbesar yang diketahui.
Ubur-ubur ini hidup dalam jangkauan terbatas, yakni di perairan dingin di Arktik, Atlantik Utara, dan Samudra Pasifik utara.
Pada tahun 1865, spesimen terbesar yang ditemukan di lepas pantai Massachusetts, Amerika Serikat, memiliki ukuran lonceng berdiameter 210 sentimeter dan panjang tentakel 36,6 meter.
Ubur-ubur ini menggunakan tentakelnya untuk menyengat, menangkap, menarik, dan memakan mangsa seperti ikan, zooplankton, makhluk laut, dan ubur-ubur berukuran kecil. (*)

Berita Lainnya

29 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Peneliti Temukan Cadangan Air Tawar Terbesar di Dunia Ada di Dasar Laut

Penemuan fenomenal dan unik terjadi saat sekelompok ilmuwan berhasil mendokumentasikan dan mengambil sampel cadangan air tawar raksasa terbesar di dunia. Uniknya, lokasi penemuannya di bawah dasar Samudra Atlantik, tepatnya di laut lepas Pantai Timur Amerika Serikat.

Proyek penelitian bernama IODP³-NSF Expedition 501 tersebut melibatkan 40 ilmuwan dari 13 negara. Tim peneliti berlayar di lepas pantai New England, wilayah selatan Cape Cod, lalu mengebor dasar laut dan mengambil sampel inti sedimen dari lapisan bawahnya.

Hasil pengeboran mengungkap adanya lapisan sedimen sekitar 200 meter di bawah dasar laut yang jenuh oleh air freshened, yakni air laut yang kadar garamnya telah berkurang drastis.

Fenomena itu bisa dibayangkan seperti spons raksasa di bawah laut, mirip akuifer di daratan. Akuifer sendiri merupakan lapisan batuan bawah tanah yang menyimpan air dan sering dimanfaatkan sebagai cadangan air tawar.

Selama puluhan tahun, ilmuwan menduga struktur seperti ini mungkin ada di bawah laut. Beberapa bukti sebelumnya sempat mengarah ke keberadaannya, namun baru kali ini sistem tersebut berhasil didokumentasikan dan diambil sampelnya secara menyeluruh

“Kami sangat antusias melihat air dengan kadar garam rendah ini ternyata berada di berbagai jenis sedimen, baik sedimen laut maupun daratan. Temuan ini membantu kami memahami kondisi yang membuat air tersebut bisa terperangkap di sana,” ujar Brandon Dugan dari Colorado School of Mines, dikutip IFLScience.

Meski begitu, banyak pertanyaan besar masih belum terjawab. Para peneliti belum mengetahui usia pasti air bawah laut tersebut, berapa total volumenya, maupun bagaimana interaksinya dengan air laut di sekitarnya.

Mereka juga menduga ada komunitas mikroba yang hidup di dalamnya, tetapi sejauh ini belum diketahui jenis mikroorganisme tersebut maupun bagaimana mereka bertahan hidup. Asal-usul air ini pun masih menjadi teka-teki.

Salah satu teori menyebut air tawar itu terjebak saat permukaan laut sekitar 100 meter lebih rendah dibanding sekarang. Kemungkinan lain, air tersebut berasal dari bawah lapisan es atau danau glasial pada salah satu periode zaman es sekitar 450 ribu tahun lalu atau 20 ribu tahun lalu.

“Para peneliti akan terus mempelajari sampel ini untuk mengungkap lebih banyak informasi, termasuk menentukan usia air tanah dengan lebih akurat, yang sangat penting untuk memperluas pemahaman kita,” kata Rebecca Robinson dari University of Rhode Island. (*)

28 Mei 2026

Penulis :

Energi Arus Laut, Potensial dan Tersedia Sepanjang Masa

Sekitar 2/3 luas wilayah Indonesia terdiri dari wilayah laut. Dengan mayoritas luas wilayah berupa laut, sudah sepatutnya segala potensi yang berasal dari laut harus dimaksimalkan. Salah satunya adalah potensi energi arus laut, energi yang memanfaatkan kekuatan gelombang, dan perbedaan pasang surut air laut.

Potensi energi dari arus laut ini sangat besar dan akan ada terus sepanjang masa. Potensi energi laut diperkirakan mencapai 60 GW lebih. Sumber kekuatan arus laut paling potensial bisa diambil di selat-selat sempit dengan arus yang kuat, seperti Selat Lombok, Selat Sunda, dan Selat Flores.

Salah satu keunggulan energi laut adalah prediktabilitasnya tinggi. Artinya arus laut dan pasang surut memiliki pola yang sangat teratur dan dapat diprediksi selama bertahun-tahun ke depan, menjadikannya sumber energi yang andal.

Pengembangan industri energi laut sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT) dinilai penting dan perlu segera diakselerasi guna mendukung bauran energi nasional, transisi energi, dan ekonomi biru.

“Kita harus mengakselerasi pemanfaatan energi laut sebagai sumber energi baru dan terbarukan sehingga diperlukan langkah strategis dan implementatif,” kata As Natio Lasman, anggota Dewan Energi Nasional (DEN).

As Natio menekankan bahwa kemajuan Indonesia sangat bergantung pada perkembangan energi sehingga pemanfaatan teknologi harus dapat dikembangkan dan segera dimanfaatkan.“Ke depan, tren pengembangan EBT di laut berpotensi untuk dapat berkontribusi dalam blue economy dan transisi energi,” tegasnya.

Dijelaskan bahwa arus laut di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik arus laut di negara-negara high latitude. Posisi Indonesia yang berada di equator menyebabkan tidak ada gaya Coriolis, sehingga teknologi turbin arus laut yang dikembangkan di Indonesia seharusnya mengacu pada karakteristik arus laut di Indonesia.

“Teknologi  yang dikembangkan oleh negara-negara Eropa atau Asia Timur butuh penyesuaian yang rumit bila diterapkan di Indonesia. BRIN telah mengembangkan teknologi konversi energi arus laut yang disesuaikan dengan karakteristik arus laut di Indonesia,” tambahnya.

Dia menegaskan, Indonesia juga mempunyai pantai terpanjang ke dua di dunia dengan potensi energi gelombang 30 kW/m sehingga secara teoritis potensi energi gelombang di pantai-pantai Indonesia sangat besar.

Demikian juga dengan potensi energi panas laut (OTEC) di kawasan Indonesia Timur yang dapat dimanfaatkan untuk melistriki pulau-pulau 3T.

“BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) sebagai Lembaga penelitian, memiliki kewajiban untuk mengeksplorasi dan mengimplementasikan energi laut sebagai bagian dari proyek percontohan energi baru dan terbarukan nasional.(*)

25 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ahli IPB Ciptakan Lampu LED untuk Tangkap Ikan Tanpa Umpan

Hasil inovasi Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Mochammad Riyanto, cukup unik. Dia mampu mengembangkan teknologi lampu LED berbasis perilaku ikan. Lampu LED khusus ini mampu menarik perhatian ikan untuk datang mendekat. Sehingga, membantu nelayan dalam menangkap ikan di laut.

Dalam keterangan persnya, Riyanto menjelaskan bahwa inovasiLED itu menggunakan pendekatan etologi ikan, yakni mempelajari perilaku ikan terhadap cahaya, pola migrasi, dan kebiasaan makan untuk merancang alat tangkap yang lebih selektif.

“Pendekatan ini mampu mengurangi tangkapan sampingan (bycatch),” ujar Riyanto, Senin (25/5/2026).

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan lampu LED hijau yang dipadukan dengan baterai air laut sebagai sumber energi terbarukan.

Teknologi ini disebut telah menghasilkan dua paten dan dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penangkapan ikan.

Menurut Riyanto, lampu LED hijau bahkan dapat menggantikan umpan alami pada penangkapan ikan kakap merah dan kerapu.

Dalam penerapannya, lampu LED hijau pada jaring insang mampu mengurangi tangkapan penyu hingga 60 persen tanpa menurunkan hasil tangkapan utama.
Sementara itu, penggunaan lampu LED merah disebut dapat menekan tangkapan mimi laut hingga 63 persen mengurangi tangkapan hiu sampai 64 persen pada tahap awal pengujian.

Riyanto menilai pendekatan berbasis perilaku ikan menjadi penting di tengah tekanan terhadap sektor perikanan tangkap Indonesia. Ia menyebut sebagian stok ikan di perairan Indonesia telah berada pada kondisi pemanfaatan maksimal hingga over exploited. Kondisi tersebut diperburuk oleh perubahan iklim, degradasi habitat, dan praktik penangkapan ilegal. Selain teknologi pencahayaan, pengembangan alat tangkap selektif juga dilakukan melalui bycatch reduction devices (BRD), seperti turtle excluder devices (TED) pada perikanan pukat udang di Laut Arafura.

“Pengelolaan perikanan ke depan harus beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi,” kata Riyanto. Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus tetap memperhatikan kesejahteraan nelayan kecil. (*)