Berita

22 Des 2022

Penulis : Folber Siallagan

Cara Berhitung dan Mencari Waktu Tepat Pergi Memancing


Banyak yang mengatakan, memancing adalah hobi yang hanya mengandalkan keberuntungan. Tentu itu pendapat yang sangat salah. Selain butuh skill khusus, ada perhitungan tertentu yang bisa mendukung kesuksesan acara memancing. Apalagi jika mancing di laut, banyak sekali faktor yang mesti dihitung dan dicermati untuk menentukan  lokasi dan waktu memancing untuk mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan. 

Lalu, bagaimana cara mengetahui waktu memancing yang baik? Bagi para angler, sangat penting untuk mengetahui waktu yang tepat untuk memancing.

Dasar semua perhitungan waktu tepat untuk memancing adalah waktu di mana ikan sedang rakus-rakusnya. Tingkat agresivitas ikan yang mencari mangsa berhubungan dengan cuaca, arus laut dan suhu air.  Berikut adalah penjelasannya:

Matahari dan Bulan
Percayakah anda, tingkah laku ikan-ikan juga menyesuaikan diri terhadap kondisi matahari dan bulan. Beruntung di zaman yang serba canggih ini, kita bisa memantau keadaan terbaru matahari dan bulan dengan mudah.

Caranya yaitu menggunakan alat bantu serta mengecek di website-website tentang astronomi, terutama mengenai kalender solunar. Setidaknya terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam membaca kondisi matahari dan bulan yaitu :

1. Periode Mayor dan Minor
Periode mayor adalah periode saat posisi bulan berada tepat di atas kepala. Biasanya periode ini terjadi dalam waktu 2 jam terhitung ketika posisi bulan tepat berada di atas kepala atau bayangannya tepat di bawah kaki. Sedangkan periode minor ialah periode ketika posisi bulan terletak di kaki. Periode ini berlangsung selama 1 jam dimulai saat bulan terbit ataupun terbenam.

2. Matahari Terbit dan Terbenam
Faktanya aktivitas para binatang akan meningkat selama terjadinya momen matahari terbit dan terbenam, termasuk perilaku ikan-ikan. Cukup banyak para pakar yang berpendapat kalau masa ideal untuk memancing pada saat sunrise dan sunset berkisar antara 45 menit.
Bahkan jikalau waktu matahari terbit dan terbenam ini bertepatan dengan periode mayor dan minor, maka sudah dapat dipastikan ikan-ikan akan keluar dari sarangnya untuk mencari mangsa dalam waktu yang lebih lama.

3. Fase Bulan
Waktu yang paling dihindari pemancing adalah saat bulan penuh atau bulan purnama. Di saat seperti itu, ikan sangat susah didapatkan dan tidak mau makan. Banyak sekali pendapat yang muncul atas fenomena tersebit. Namun yang pasti, berdasarkan pengalaman , saat bulan penuh nyaris tidak ada orang yang mau memancing. 


Situasi dan Kondisi
Tidak dipungkiri, situasi dan kondisi terkini dari lingkungan spot akan berpengaruh besar terhadap perilaku ikan-ikan yang hidup di dalamnya. Ikan tentu akan bergerombol keluar mencari plankton di waktu kondisi perairan sedang tenang, suhunya normal, tekanan udara agak rendah, serta tekanan angin yang cenderung tinggi.

1. Pasang Surut
Waktu pasang dan surut air laut dipengaruhi oleh posisi matahari dan bulan. Semakin besar selisih antara pasang tinggi dan pasang rendah, semakin kuat pula arus air laut yang akan terjadi.
Menariknya kecepatan arus laut ini akan mempengaruhi tingkah laku ikan. Ikan akan lebih agresif jika ada arus laut. Namun, arus laut yang terlalu kuat juga menyulitkan pemancing karena susah menempatkan kalinya karena selalu diseret arus. Jadi yang terbaik adalah memancing saat ada arus namun tidak terlalu liat. Yang dimaksud arus laut adalah arus laut di bagian dasar bukan di permukaan. 

2. Tekanan Udara
Tekanan udara di suatu tempat dapat menunjukkan perubahan cuaca yang akan terjadi. Ikan umumnya akan aktif berenang untuk mencari makanan ketika tekanan udaranya normal.

3. Temperatur Air
Karena berdarah dingin, kebanyakan ikan bakalan menjauh dari daerah-daerah yang mempunyai suhu yang rendah. Alasan lain yakni pada saat suhu air berubah menjadi dingin, kadar oksigen terlarut di dalam air akan berkurang. Untungnya mayoritas perairan di Indonesia mempunyai temperatur yang normal.

4. Kecepatan Angin
Angin yang berhembus terlalu cepat sering kali mengganggu kenyamanan kita dalam memancing. Tetapi tahukah anda, justru pada saat tingkat kecepatan angin ini sedang meninggi ini merupakan salah satu waktu yang terbaik untuk memancing. (*)

Berita Lainnya

3 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pakar Khawatir Gempa akan Picu Tsunamj

Pakar geologi, Daryono menjelaskan, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang menghantam wilayah laut Bitung, Sulawesi Utara pada Kamis (2/4) pagi dikategorikan sebagai gempa megathrust oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Daryono mengatakan, gempa-gempa dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) di wilayah Laut Maluku merupakan konsekuensi langsung dari dinamika tektonik kompleks pada zona konvergensi ganda (double subduction system) yang unik di kawasan itu. 

Daryono menyebut laut Maluku diapit oleh dua busur subduksi aktif, yaitu Lempeng Laut Maluku yang tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe, serta ke arah timur di bawah Busur Halmahera. "Kondisi ini menyebabkan akumulasi tegangan kompresi yang sangat intens pada kerak bumi," kata Daryono kepada wartawan, Jumat (3/4/2026). 

Dalam kerangka mekanika batuan dan tektonik lempeng, Daryono menerangkan mekanisme sesar naik terjadi akibat gaya kompresi horizontal yang mendorong satu blok batuan bergerak naik relatif terhadap blok lainnya. 

Di Laut Maluku, Daryono menyebut sumber gempa thrust umumnya berasosiasi dengan bidang kontak antarlempeng (megathrust) maupun deformasi internal pada slab yang tersubduksi. "Hal ini menjelaskan mengapa gempa-gempa di wilayah ini sering memiliki kedalaman menengah hingga dalam, namun tetap menunjukkan solusi mekanisme fokus berupa sesar naik," ujar Daryono. 
Secara geofisika, Daryono menyatakan karakteristik ini konsisten dengan hasil analisis momen sensor yang menunjukkan dominasi komponen kompresional (P-axis) hampir horizontal, serta bidang nodal yang mencerminkan geometri penunjaman lempeng. 

Selain itu, adanya interaksi kompleks antara dua sistem subduksi yang saling berhadapan (arc-arc collision) memperkuat intensitas deformasi."Sehingga meningkatkan frekuensi kejadian gempa dengan mekanisme sesar naik," ujar Daryono. 

Dari perspektif kebencanaan, Daryono mengamati gempa thrust di Laut Maluku memiliki signifikansi tinggi karena berpotensi menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal. Hal ini dapat memicu tsunami, terutama jika terjadi pada kedalaman dangkal dan melibatkan pergeseran besar di bidang patahan. 
"Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif terhadap mekanisme ini menjadi krusial dalam upaya mitigasi risiko bencana di kawasan Indonesia timur,"ujar Daryono. (*) 

2 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ketapang-Gilimanuk Overload, Pemerintah Diminta Bangun Pelabuhan Baru

Penyebrangan dari dan ke Pulau Bali melalui akses Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk dianggap sudah overload. Selain menimbulkan kemacetan kuar biasa di kedua pelabuhan, hal ini juga rawan kecelakaan. Untuk itu, DPR meminta pemerintah memikirkan pembangunan pelabuhan baru sebagai alternatif penyebrangan dari dan ke Pulau Bali.

Menurut anggota DPR RI Iman Sukri, kondisi penyebrangan Ketapang-Gilimanuk sudah harus dikurangi atau dialihkan volume kapal dan penumpangnya. Sebab, sejauh ini, penyebrangan Ketapang-Gilimanuk merupakan satu-satunya akses lalu lintas laut Pulau Jawa-Pulau Bali.

"Saya kira sudah waktunya pemerintah serius membangun alternatif pelabuhan lain dari dan atau menuju Bali. Tidak bisa terus bergantung pada Ketapang-Gilimanuk saja," ujar Iman dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut, Iman mengatakan pembangunan akses laut baru menuju Bali diperlukan karena beban lalu lintas yang terus meningkat tidak sebanding dengan kapasitas infrastruktur yang tersedia saat ini.

Iman menyampaikan pernyataan itu untuk menanggapi kondisi berulang atas kemacetan yang terjadi menuju dua pelabuhan yang merupakan jalur penyeberangan Jawa-Bali tersebut.

Sementara itu, dia mengusulkan berbagai opsi pembukaan akses baru yang dinilai lebih representatif dan berkelanjutan.
Misalnya, kata dia, membuka jalur menuju Bali Utara, baik melalui kawasan Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) maupun dengan memperkuat peran Pelabuhan Jangkar, Situbondo, Jatim sebagai simpul penyeberangan alternatif.

"Pengembangan akses menuju Bali Utara bisa menjadi solusi untuk memecah konsentrasi arus kendaraan. Ini penting agar tidak terjadi penumpukan ekstrem di satu titik seperti yang kita lihat hari ini," jelasnya.

Walaupun demikian, dia mengingatkan agar upaya pembangunan akses laut baru tersebut tetap memperhatikan kearifan lokal masyarakat Bali, khususnya terkait penolakan terhadap pembangunan jembatan penghubung Jawa-Bali.
Ia pun mengharapkan pemerintah pusat segera melakukan kajian komprehensif dan menindaklanjuti dengan langkah konkret agar konektivitas Jawa-Bali menjadi lebih andal, aman, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan. (*)

30 Mar 2026

Penulis : Folber Siallagan

Laut Mediterania, Kenapa Dijuluki Kuburan Terbesar di Eropa?

Laut Mediterania terletak di antara tiga benua: Eropa, Afrika, dan Asia. Secara geografis, laut ini dikelilingi oleh daratan di tiga sisinya dan hanya terhubung dengan Samudra Atlantik melalui Selurrah Gibraltar di barat. Meski menghubungkan tiga benua, Laut Mediterania lebih akrab dengan julukan 'kuburan terbesar di Eropa'. Bagaimana ceritanya?

Diketahui bahwa laut inienghubungkan daratan Eropa dengan benua Afrika dan Asia. Banyak orang dari Asia dan Afrika, yang secara ekonomi kekurangan, bermimpi tinggal dan bekerja di Eropa. Namun, persyaratan untuk bisa tinggal dan bekerja di Eropa tidak bisa mereka penuhi karena berbagai faktor. Akhirnya, jalan pintas yang mereka pilih adalah dengan masuk ke Eropa secara ilegal atau menyelundupkan.

Nah, Laut Mediterania adalah satu-satunya jalan masuk ke Eropa meski risiko dan bahaya yang cukup tinggi. Belum lama ini, Al Jazeera melaporkan bahwa sedikitnya 22 migran tewas di Laut Mediterania tepatnya di lepas pantai Yunani setelah enam hari di laut dengan perahu karet. Mereka berencana akan ke Eropa secara ilegal.

Peristiwa itu merupakan fenomena rutin yang terjadi di Laut Mediterania. Setiap tahun, ribuan orang mencoba menyeberangi Laut Mediterania dengan cara yang berbahaya dari Libya ke Eropa. Dan tidak jarang berakhir tragis di tengah laut.

Mendiang Paus Fransiskus menyebut Laut Mediterania, jalur yang paling sering digunakan oleh migran ilegal untuk menyeberang ke Eropa dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik. Tidak heran laut itu disebut sebagai "kuburan terbesar di Eropa."

Menurut Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), lebih dari 16.770 orang pencari suaka di Eropa tiba di Kreta pada tahun 2025. Setidaknya 107 orang tewas atau hilang di perairan Yunani selama periode yang sama.

Pada tanggal 9 Februari 2026, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan sekitar 53 migran, termasuk dua bayi, tewas atau hilang setelah sebuah perahu karet yang membawa 55 orang terbalik di Laut Mediterania, tepatnya di lepas pantai kota Zuwara di Libya.

Pada bulan Januari 2026, IOM mengatakan setidaknya 375 migran dilaporkan tewas atau hilang karena cuaca ekstrem, dengan ratusan kematian lainnya diyakini tidak tercatat.

Menurut laporan IOM, dengan 3.771 kematian, tahun 2015 merupakan tahun paling mematikan yang pernah tercatat bagi para migran dan pengungsi yang menyeberangi Laut Mediterania untuk mencapai Eropa. Sebagai perbandingan, 3.279 kematian tercatat di Laut

Menurut data PBB, lebih dari 670 migran telah meninggal di Mediterania tengah tahun 2021. Namun, investigasi lain mencatat bahwa angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi karena adanya penolakan dari beberapa negara di blok tersebut.

Tingginya angka kematian di Laut Mediterania itulah yang mendasari hukuman sebagai 'kuburan terbesar di Eropa'. (*)