Berita

2 Nov 2023

Penulis : Folber Siallagan

Bunda Cliffs, 'Ujungnya Dunia' di Laut Lepas Australia

Bumi itu bulat, sehingga tidak diketahui bagian mana ujungnya. Namun, ada sebuah tebing ekstrem di tepi laut lepas Australia yang dipercaya sebagai ujung bumi, namanya Bunda Cliffs. Seperti apa?

Bunda Cliffs adalah sebuah tebing ekstrem yang berada di kawasan Great Australian Bight, teluk besar dan terbuka di Samudera Hindia yang menjorok ke pantai selatan Australia Barat dan Selatan. Meski nama tebingnya 'Bunda' bukan berarti memakai bahasa Indonesia. Itu merujuk pada sebuah nama yang diberikan oleh orang-orang Aborigin dan menggunakan bahasa Aborigin.

Dalam teluk ini, terdapat Dataran Nullarbor yang luasnya mencapai 270.000 km persegi dan terbentang sekitar 1.000 km dari timur ke barat yang tidak ditumbuhi pepohonan.
Dengan terus berjalan ke arah selatan di Dataran Nullarbor, kamu akan menemukan Tebing Bunda. Tebing sepanjang 200 km yang menghadap langsung ke lautan lepas dan banyak dikatakan sebagai ujung dunia.
Tebing Bunda merupakan salah satu tebing terpanjang di Australia. Tebing ini dinilai memiliki potensi signifikansi untuk nilai-nilai geo-heritage dengan kriteria proses, kelangkaan, dan estetikanya.
Tebing bunda tingginya sekitar 60-120 m dan terjal, padahal tebing ini adalah bagian dari dataran yang berjuta tahun lalu merupakan dasar laut.
Dulunya, dataran ini merupakan bekas dasar laut dangkal berusia 65 juta tahun. Di dataran ini, ditemukan pula struktur terumbu karang yang terbentuk ketika Dataran Nullarbor berada di bawah air lebih dari 14 juta tahun yang lalu.
Jika kamu ingin merasakan pertemuan tebing dan laut yang menakjubkan ini, kamu bisa menikmati keindahannya dengan dari beberapa titik pengamatan di sepanjang Eyre Highway atau dari udara. Dari atas tebing ini kita bisa menikmati hamparan biru teluk Great Australian Bight. (*)

Berita Lainnya

25 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ahli IPB Ciptakan Lampu LED untuk Tangkap Ikan Tanpa Umpan

Hasil inovasi Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Mochammad Riyanto, cukup unik. Dia mampu mengembangkan teknologi lampu LED berbasis perilaku ikan. Lampu LED khusus ini mampu menarik perhatian ikan untuk datang mendekat. Sehingga, membantu nelayan dalam menangkap ikan di laut.

Dalam keterangan persnya, Riyanto menjelaskan bahwa inovasiLED itu menggunakan pendekatan etologi ikan, yakni mempelajari perilaku ikan terhadap cahaya, pola migrasi, dan kebiasaan makan untuk merancang alat tangkap yang lebih selektif.

“Pendekatan ini mampu mengurangi tangkapan sampingan (bycatch),” ujar Riyanto, Senin (25/5/2026).

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan lampu LED hijau yang dipadukan dengan baterai air laut sebagai sumber energi terbarukan.

Teknologi ini disebut telah menghasilkan dua paten dan dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penangkapan ikan.

Menurut Riyanto, lampu LED hijau bahkan dapat menggantikan umpan alami pada penangkapan ikan kakap merah dan kerapu.

Dalam penerapannya, lampu LED hijau pada jaring insang mampu mengurangi tangkapan penyu hingga 60 persen tanpa menurunkan hasil tangkapan utama.
Sementara itu, penggunaan lampu LED merah disebut dapat menekan tangkapan mimi laut hingga 63 persen mengurangi tangkapan hiu sampai 64 persen pada tahap awal pengujian.

Riyanto menilai pendekatan berbasis perilaku ikan menjadi penting di tengah tekanan terhadap sektor perikanan tangkap Indonesia. Ia menyebut sebagian stok ikan di perairan Indonesia telah berada pada kondisi pemanfaatan maksimal hingga over exploited. Kondisi tersebut diperburuk oleh perubahan iklim, degradasi habitat, dan praktik penangkapan ilegal. Selain teknologi pencahayaan, pengembangan alat tangkap selektif juga dilakukan melalui bycatch reduction devices (BRD), seperti turtle excluder devices (TED) pada perikanan pukat udang di Laut Arafura.

“Pengelolaan perikanan ke depan harus beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi,” kata Riyanto. Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus tetap memperhatikan kesejahteraan nelayan kecil. (*)

24 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Ini Tiga Alat Sederhana Penyelamat Nyawa jika Berkegiatan di Laut

Berkegiatan di alam bebas, khususnya laut dan hutan, perlu persiapan alat dan fisik yang matang. Sebab, alam liar tidak bisa diprediksi 100 persen tepat dan bisa berubah setiap waktu. Nah, inilah tiga alat sederhana, mudah dibawa namun sangat penting sebagai faktor penyelamat nyawa kita jika terjadi hal tak terduga di tengah alam liar. Tiga alat itu adalah senter, peluit dan kaca. Kok bisa? Simak penjelasan berikut.

Menurut Kepala Kantor SAR Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Abdul Rahman, benda-benda sederhana tersebut memiliki peran penting dalam membantu proses pencarian dan penyelamatan saat kondisi darurat terjadi di alam liar.

"Peluit, senter, dan cermin, dapat menjadi alat komunikasi darurat ketika seseorang mengalami musibah atau tersesat," katanya.

Dalam kondisi darurat, sinyal bahaya dapat disampaikan menggunakan peluit maupun cahaya untuk mempermudah tim penyelamat menemukan lokasi korban lebih cepat atau menjadi penanda bahwa seseorang sedang berada dalam situasi genting dan membutuhkan pertolongan.

Kode darurat dengan menggunakan ketiga alat itu dinilai lebih efektif karena bersifat umum, sehingga dapat dipahami oleh siapa saja tanpa bergantung pada bahasa maupun jaringan komunikasi.

Peluit merupakan kode yang bisa ditangkap melalui pendengaran. Untuk penggunaannya, sinyal darurat disampaikan melalui bunyi dengan pola tiga kali tiupan pendek, tiga kali tiupan panjang, lalu tiga kali tiupan pendek lagi.

Melalui pola tersebut, tim penyelamat maupun orang di sekitar dapat mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang meminta pertolongan atau berada dalam kondisi darurat.

Sementara itu senter dan cermin digunakan sebagai sinyal darurat melalui cahaya yang dapat ditangkap dengan penglihatan.

Cahaya senter dapat digunakan pada malam hari atau saat kondisi berkabut. Sedangkan cermin dimanfaatkan untuk memantulkan cahaya matahari, bulan, atau sumber cahaya lain ke arah sekitar maupun ke udara sebagai penanda lokasi.

Pola isyarat yang diberikan mirip dengan bunyi, yakni tiga kali kedipan cahaya pendek, tiga kali panjang dan kembali pada kedipan pendek'Jika hanya menggunakan suara dengan berteriak meminta tolong, itu tidak terlalu efektif karena biasanya hanya terdengar sekitar 50 meter dan bisa tertutup suara ombak laut maupun angin. Selain itu penggunaan alat seperti peluit juga tidak membutuhkan banyak tenaga," katanya.

Selain membawa perlengkapan sederhana tersebut, masyarakat juga diingatkan untuk menyiapkan alat keselamatan lain, seperti pelampung dan radio komunikasi saat melaut.

Ia menyampaikan pemberitahuan rencana perjalanan kepada keluarga atau kerabat sebelum berangkat, baik saat pergi melaut maupun masuk ke kawasan hutan, juga merupakan hal penting lain yang perlu dilakukan. (*)

21 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Harga Meroket di Pasaran, Kuda Laut Terancam Punah

Perburuan kuda laut semakin meningkat. Ini setelah kebutuhan kuda laut kering sebagai bahan baku obat tradisional semakin tinggi. Akibatnya harga melambung tinggi. Jika tidak dikelola dan diatur sejak dini, bisa jadi kuda laut akan punah diburu manusia.

Menurut Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masayu Rahmia Anwar Putri, tingginya nilai ekonomi membuat pemanfaatan kuda laut terus terjadi, dengan harga bisaenembus angka Rp 8 juta per kilogram. 

“Bayangkan kalau satu kampung mengambil kuda laut semua, kita tidak akan menemukannya lagi di daerah tersebut dan bisa punah,” katanya.

BRIN bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan rekomendasi kuota pemanfaatan kuda laut untuk kebutuhan perdagangan, penelitian, maupun indukan budi daya.
Masayu menekankan, pengelolaan kuda laut tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah karena luasnya wilayah perairan Indonesia dan keterbatasan jumlah personel.

Karena itu, Masayu mendorong masyarakat pesisir turut aktif melaporkan tangkapan, menjaga habitat, serta menyebarkan pengetahuan mengenai pentingnya konservasi kuda laut.
Kalau masyarakat pesisir tidak mau berkontribusi, kita tidak bisa mendapatkan data yang sebenarnya,” kata Masayu.

Pemahaman masyarakat terhadap keunikan dan ekologi kuda laut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga keberlanjutan spesies tersebut di alam.

Hingga saat ini tercatat 13 spesies kuda laut tersebar di berbagai wilayah perairan Indonesia. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring perkembangan riset dan penemuan spesies baru. (*)

20 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

'Sobat', Tradisi Unik Nelayan Derawan Memburu Tuna

Ada sebuah tradisi unik yang biasa dilakukan oleh para nelayan di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Utara. Sebuah tradisi yang biasa disebut 'Sobat'. Di mana, pada musim tertentu, para nelayan turun beramai-ramai membawa pukat tradisional untuk menangkap ikan tuna.

Aktivitas memukat ikan tersebut masih terus dipertahankan oleh kelompok nelayan pesisir hingga sekarang. Selain menjadi sumber penghasilan warga, tradisi itu perlahan berkembang menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi “sobat” memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan.
“Tradisi ini kini menjadi destinasi wisata budaya dan wisata bahari di Berau,” katanya, Rabu (20/5). 

Tradisi ini biasanya berlangsung mulai Maret hingga Oktober, menyesuaikan musim saat ikan tuna banyak mendekat ke kawasan Pulau Derawan. Di momen tersebut, nelayan akan turun ke laut menggunakan pukat sederhana secara berkelompok. Gerakan menarik jaring bersama-sama di tengah laut dangkal dengan latar pasir putih dan air jernih menjadi pemandangan khas yang sulit ditemukan di daerah lain.

Menurut Gamalis, tradisi seperti ini penting dijaga karena menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir Derawan, termasuk budaya melaut warga Suku Bajau yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Ia menilai sektor perikanan dan pariwisata di Berau sebenarnya dapat tumbuh beriringan tanpa harus saling menggeser.

“Tradisi masyarakat pesisir seperti ini memperlihatkan kehidupan asli warga Derawan dan justru bisa memperkuat citra wisata daerah,” katanya.

Potensi itu terlihat dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Derawan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan tercatat mencapai 45.274 orang atau naik sekitar 32,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas berasal dari wisatawan nusantara, sementara ribuan lainnya datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara Eropa. (*)