Berita

17 Mar 2025

Penulis : Folber Siallagan

Dibutuhkan 1.000 Calon Manajer Sub Perusahaan Industri Rumput Laut

Buat kamu yang minat bekerja di dunia rumput laut, tidak ada salahnya mencoba melamar pekerjaan sebagai manajer sun sektor di industri maritim Bandar Laut Dunia Grup (Balad Grup). Perusahaan ini sedang memulai berbudidaya Rumput Laut di 7 Teluk di Desa Saobi, Kecamatan Kanganyan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Indonesia. Untuk itu, Balad Grup membuka 1.000 lowongan kerja bagi Sarjana Kelautan sebagai Manajer Sub Sektor. 

Balad Grup sedang membuka 100  sektor pertanian rumput laut yang masing-masing sektor seluas 5.000 hektare. Karena setiap sektor butuh 10 sub manajer, maka total dibutuhkan 1.000 sub manajer untuk 100 sektor pertanian tersebut. 
“Bagi putra dan putri Indonesia, khususnya sarjana kelautan dan perikanan, yang berminat menduduki jabatan tersebut silahkan mendaftarkan diri ,” kata Khalilur R Abdullah Sahlawiy Owner Balad Grup.
Untuk budidaya rumput Laut di area seluas 50.000 hektar, 1.000 manajer sub sektor yang dibutuhkan itu untuk menata dan mengelola budidaya rumput laut dengan baik. 
“Lowongan pekerjaan sudah kami buka dan rencananya 1000 pelamar yang diterima akan mulai bekerja dari tanggal 1 Mei 2025 mendatang," kata Khalilur. Dikatakan, surat lamaran pekerjaan tersebut bisa dikirimkan ke  Kantor Balad Grup dengan alamat Gedung Graha Pena Ekstensi Lantai 10 Jl. Ahmad Yani No. 88 Surabaya, Indonesia.
Dijelaskan Khalilur, area garapan Balas Group berada di Teluk Pulau Malang seluas 6,15 Ha; Teluk Sabiteng luas lokasi 7,75 Ha; Teluk Karanjang luas lokasi 10,50 Ha; Teluk Karenteng luas lokasi 10,50 Ha; Teluk Pangelek luas lokasi 3,59 Ha; Teluk Pulau Tajaan luas lokasi 10,50 Ha dan; dan Teluk Tajaan Satu luas lokasi 10,50 Ha. Total luas area budidaya rumput laut ini seluas 59.84 Hektar.
“Jumlah budidaya rumput laut yang dilakukan Balad Grup terbesar di dunia dalam 1 kawasan budidaya,” kata Khalilur. (*)

Berita Lainnya

18 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Gawat, Pemanasan Global Tembus Laut Terdalam Arktik

Meski dunia sudah mewaspadai, namun bahaya pemanasan global masih belum bisa dihentikan. Yang terbaru, efek dari pemanasan global sudah menembus hingga laut terdalam di Samudera Arktik. Padahal selama ini wilayah laut terdalam Arktik dianggap relatif aman dari dampak pemanasan global.

Menurut hasil penelitian yang dilansir tim Ocean University of China, (18/1/2026), data terbaru tersebut berhasil dikumpulkan menggunakan kapal pemecah es. Data tersebut digunakan untuk mengukur suhu di kedalaman laut yang sebelumnya sangat jarang diteliti.

Dalam 40 tahun terakhir, luas es laut Arktik telah menyusut sekitar 40 persen. Penyebab utamanya adalah pemanasan atmosfer yang langsung memengaruhi permukaan laut. Kendati demikian, dampak tersebut ternyata jauh lebih dalam.

Dalam salah satu dari dua cekungan besar Samudera Arktik yaitu cekungan Eurasia, pada kedalaman 1.500 hingga 2.600 meter telah menghangat sekitar 0,074 derajat celsius sejak tahun 1990.

Meski angka peningkatan suhu terkesan kecil, namun pemanasan tersebut mewakili perpindahan energi hampir 500 triliun megajoule. Jika energi sebesar itu berada di permukaan laut, jumlahnya cukup untuk mencairkan hingga sepertiga luas minimum es laut Arktik.

"Laut dalam ternyata jauh lebih aktif daripada yang kita duga. Saya kira laut dalam bisa saja memanas, tapi tidak secepat ini," ucap anggota tim penelitian, Xianyao Chen.

Samudera Arktik terbagi menjadi dua cekungan besar oleh pegunungan bawah laut yang membentang dari Greenland hingga Siberia. Kedua wilayah ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Cekungan Amerasia relatif terisolasi dari Samudera Pasifik karena terhalang Selat Bering yang dangkal. Sementara itu, cekungan Eurasia menerima aliran air hangat dari Samudra Atlantik. Air hangat tersebut dibawa oleh sistem sirkulasi laut besar yang dikenal sebagai Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC). Arus ini mengalir dari Atlantik menuju utara, menyusuri pesisir Skandinavia, lalu masuk ke lapisan atas Arktik. (*)

15 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Suhu Air Laut Sepanjang Tahun 2025 Terpanas Sepanjang Sejarah

Sepanjang tahun 2025, suhu air laut di dunia tercatat di angka paling tinggi sepanjang sejarah. Hal ini menjadi peringatan semua negara bahwa pemanasan global akibat akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer benar-benar menjadi ancaman di masa datang.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Advances in Atmospheric Sciences, suhu laut sepanjang 2025 termasuk yang tertinggi yang pernah tercatat. Naiknya suhu air laut berkorelasi dengan pemanasan global karena sekitar 90% panas suhu permukaan bumi terserap oleh air laut. Sehingga hal itu menjadikan panas laut sebagai indikator penting perubahan iklim.

Studi tersebut juga mencatat bahwa suhu permukaan laut (SST) rata-rata tahunan global pada tahun 2025 adalah 0,49 °C di atas garis dasar 1981–2010 dan 0,12 ± 0,03 °C lebih rendah daripada tahun 2024.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat suhu panas telah memicu cuaca ekstrem berupa gelombang panas, curah hujan lebat, dan siklon tropis yang intens.

Analisis gabungan WMO dari delapan kumpulan data menyebutkan suhu permukaan rata-rata global adalah 1,44 °C (dengan margin ketidakpastian ± 0,13 °C) di atas rata-rata 1850-1900.

Dua dari kumpulan data ini menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas kedua dalam catatan 176 tahun, dan enam lainnya menempatkannya sebagai tahun terpanas ketiga.

Tiga tahun terakhir, 2023-2025, adalah tiga tahun terpanas di semua delapan kumpulan data. Rata-rata suhu tiga tahun gabungan 2023-2025 adalah 1,48 °C (dengan margin ketidakpastian ± 0,13 °C) di atas era pra-industri.

Sebelas tahun terakhir, 2015-2025, adalah sebelas tahun terpanas yang ada dalam delapan kumpulan data. “Tahun 2025 dimulai dan berakhir dengan La Nina yang mendingin, namun tetap menjadi salah satu tahun terpanas yang tercatat secara global karena akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer kita,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo. (*)

13 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Lemhanas: Sudah Saatnya Indonesia Miliki Kapal Induk

Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) menilai sudah saatnya Indonesia memiliki kapal induk. Selain untuk pertahanan dan keamanan wilayah laut, kapal induk itu juga sangat penting untuk misi lain selain perang. Namun demikian, pembelian kapal induk tersebut harus menyesuaikan kemampuan finansial negara. 

Menurut Gubernur Lemhanas, Ace Hasan Syadzili, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki luas laut terbentang dari Sabang sampai Merauke.
"Setiap jengkal laut di wilayah Indonesia harus dijaga karena memiliki banyak potensi dari mulai kekayaan alam hingga perekonomian," kata Ace Hasan. 

Karenanya, dia menilai perlu adanya penguatan dari segi alat utama sistem senjata (alutsista) untuk menjaga kawasan laut Indonesia.
Ia mengatakan, pembelian kapal induk menjadi opsi yang tepat dalam rangka menjaga kedaulatan laut Indonesia.
"Walaupun harus dilihat juga misalnya soal kemampuan fiskal dan lain sebagainya. Tapi saya kira memperkuat kekuatan laut kita melalui peralatan canggih termasuk memiliki kapal induk, saya kira kenapa tidak," jelas Ace.

Seperti diketahui, TNI AL sedang bernegosiasi dengan AL Italia untuk membeli kapal induk Giuseppe Garibaldi.
Untuk diketahui, kapal induk ini memiliki kesamaan dengan dua KRI baru milik TNI AL yakni KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321, yakni sama sama dibuat oleh perusahaan asal Italia Fincantieri.
Kapal induk dengan panjang 180,2 meter ini dilengkapi dengan mesin penggerak super yang dapat menggerakkan kapal dengan kecepatan 30 knot atau 56 kilometer per jam.

Kapal pengangkut pesawat tempur ini juga dilengkapi beberapa radar jamming hingga senjata seperti peluncur oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat Sea Sparrow / Selenia Aspide , Oto Melara Kembar 40L70 DARDO, 324 mm tabung torpedo rangkap tiga dan Otomat Mk 2 SSM.(*)

12 Jan 2026

Penulis : Folber Siallagan

Cuaca Ekstrem, ASDP Perketat Keselamatan Penyeberangan Laut

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan hasil pengamatan yang menunjukkan anacaman cuaca ekstrem dan gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia. Untuk itu, PT ASDP Indonesia Ferry mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak memaksakan diri melakukan perjalanan laut di tengah kondisi cuaca ekstrem.

Hal itu sejalan dengan prakiraan BMKG yang menyebutkan cuaca ekstrem masih berpotensi berlanjut hingga pertengahan Januari 2026.

"Komitmen perusahaan terus memperketat aspek keselamatan dalam setiap operasional penyeberangan, baik angkutan penumpang maupun logistik," Direktur Utama ASDP Heru Widodo, Senin (12/01/2026).

Dikatakan Hery, sejak pekan lalu BMKG mencatat peningkatan intensitas hujan akibat dinamika atmosfer, antara lain La Nina lemah, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif, serta perambatan gelombang ekuator, yang berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.

Heru menegaskan prakiraan BMKG menjadi dasar utama manajemen dalam mengambil kebijakan operasional penyeberangan.

"Berdasarkan forecast BMKG, kondisi cuaca ekstrem di wilayah Sulawesi masih berpotensi berlanjut. Karena itu, ASDP menegaskan komitmen untuk mengutamakan keselamatan sebagai prioritas utama," ucap Heru.

Dia juga mengimbau masyarakat agar mengatur waktu perjalanan dengan sebaik-baiknya, mempersiapkan perjalanan secara optimal, serta tidak memaksakan diri untuk menyeberang apabila kondisi cuaca tidak aman.
"Keselamatan penumpang, awak kapal, dan pengguna jasa harus menjadi perhatian bersama," tegas Heru.
ASDP secara konsisten melakukan pemantauan cuaca, pengecekan kesiapan kapal, serta koordinasi dengan KSOP, BPTD, BMKG, dan unsur TNI/Polri sebelum setiap keberangkatan.

Penyesuaian jadwal hingga penundaan operasional akan dilakukan apabila kondisi dinilai berisiko, sebagai bagian dari komitmen perusahaan mengutamakan keselamatan penumpang, awak kapal, dan pengguna jasa.

Dengan cuaca ekstrem yang masih berlangsung, ASDP mengajak masyarakat menjadikan informasi cuaca sebagai rujukan utama dalam merencanakan perjalanan. (*)