Anomali cuaca berupa curah hujan di atas normal pada musim kemarau ini akan berlangsung hingga November. Hal ini merupakan dampak memanasnya suhu muka laut di wilayah Indonesia dan adanya fenomena La Nina di Samudra Pasifik.
Selain itu, munculnya angin timur hingga Oktober juga menyebabkan naiknya gelombang laut di selatan Jawa dan Laut Arafuru.
Menurut penjelasan Endro Santoso, Kepala Bidang Informasi Klimatologi dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Selasa (6/7/2010), La Nina yang ditunjukkan oleh mendinginnya suhu muka laut di Pasifik Tengah saat ini meningkat dari kondisi lemah pada bulan lalu menjadi ke tingkat moderat atau sedang.
Hal ini berdampak pada naiknya aliran massa udara dari kawasan Pasifik ke wilayah Indonesia hingga mengakibatkan banyak hujan.
Sementara itu, menurut laporan prakirawan cuaca BMKG, dalam seminggu ke depan, beberapa wilayah yang mengalami gelombang laut setinggi hingga 3 meter adalah Laut Arafuru, selatan Pulau Jawa, dan barat Sumatera.
Saat gelombang laut setinggi itu, kapal-kapal nelayan yang relatif kecil dilarang untuk melaut. Ketinggian laut bulan Juli ini lebih rendah dari dua bulan sebelumnya, yang dapat mencapai 5 meter.
Sementara itu menurut pakar agroklimat dari Institut Pertanian Bogor, Rizaldi Boer, curah hujan yang di atas normal pada musim kemarau ini secara umum berdampak positif bagi wilayah yang dipengaruhi tipe cuaca monsun.
Sementara itu, wilayah dengan pola monsun hanya mengalami puncak hujan sekali setahun dan mengalami periode musim kemarau pada April hingga September dan musim hujan pada Oktober sampai Maret. |